Sabtu, Mei 2, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Sampah & Polusi

Tak Boleh ada Sedotan Plastik di Pulau Pari

redaksi
23 Juli 2018
Kategori : Sampah & Polusi
0
Tak Boleh ada Sedotan Plastik di Pulau Pari

FOTO: DOK. KKP

Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengajak warga di Pulau Pari, Kepulauan Seribu, memperhatikan kebersihan, salah satunya dengan mengurangi penggunaan plastik dan tidak membuang sampah ke laut. Tidak boleh lagi ada minuman sedotan di pulau Pulau Pari.

“Mulai besok tidak boleh lagi ada minuman sedotan di pulau ini,” kata Susi, di Pulau Pari, Minggu (22/7). Di Pulau Pari Menteri Susi melakukan penanaman mangrove untuk memperingati Hari Mangrove Sedunia yang jatuh setiap tanggal 26 Juli. Kegiatan ini dilakukan warga Pulau Pari bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).

Menurut Susi, Indonesia sekarang ini sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia. “Malu kita, mandi pakai sabun, habis pakai sabun pakai bedak, habis pakai bedak pakai minyak wangi. Kurang apa lagi? Tapi buang plastik ke sana (laut). Itu kan berbeda. Kitanya bersih alamnya kotor, bagaimana?” ujar Susi.

Susi mencontohkan keberhasilan Kenya, Namibia, dan Ghana mengurangi penggunaan plastik. Salah satunya, dengan menghindari pemakaian kantong sekali pakai, dengan memakai tas ramah lingkungan.

“Ke pasar beli cabe setengah ons 1 kresek, bawang merah ½ ons satu kresek. Satu ibu rumah tangga pulang habis belanja bawang merah satu kresek, jahe satu kresek, semua sepuluh kresek bawa pulang ke rumah. Habis itu jadi sampah. Mau nanem pisang, nyangkul tanah isinya apa? Kresek,” katanya.

Warga di Pulau Pari, menurut Susi, perlu membuat aturan khusus mengenai larangan membuang sampah sembarangan. Masyarakat, Pemda, dan aparat keamanan bekerja sama. Masyarakat menjaga keindahan dan kebersihan pulau, Pemda membuat regulasi, dan aparat melakukan penengakan hukum.

Susi mengatakan, persoalan pulau itu ada di kebersihan, sanitasi, dan pengelolaan sampah. Pengelolaan sampah ini sangat penting. Bayangkan bila setiap minggu 1000 turis datang ke Pulau Pari. Masing-masing membawa kantong kresek. “Berapa bungkus makanan dan lain-lain, mau dikemanakan sama Bapak-bapak? Buang ke laut? Pada saat air pasang balik lagi. Laut itu tidak suka dengan sampah. Pasti akan kembali ke pantai Bapak,” katanya.

Menteri Susi juga meminta masyarakat tidak lagi membuang langsung limbah minyak, sampah kimia, cat, dan oli ke laut karena dapat merusak karang-karang. Hal ini karena air laut tidak punya penyaring.

Susi mengatakan, warga mengelola Pulau Pari sebagai anugerah dari Tuhan untuk diwariskan bagi generasi mendatang. Pengelolaan Pulau Pari jangan hanya ditujukan untuk mencari uang semata.

Menteri Susi meminta warga untuk tidak serakah menangkap ikan. Hal ini dilakukan agar ikan memiliki waktu untuk beregenerasi. Sediakan waktu untuk berlibur. Seperti kebijakan sasi (penutupan sementara) penangkapan kerang lola, lobster, dan sebagainya yang diterapkan beberapa daerah dalam jangka waktu tertentu, misalnya di Banda Neira.

“Kalau pasang jaring Kamis sore, Sabtu pagi diambil, sama saja bohong. Maksud Ibu itu libur, ulah nyokot, jangan ngambil ikan dulu dari laut. Semakin diatur jeda-jedanya, semakin hasilnya banyak,” kata Susi.

Menteri Susi juga mengajak warga di Pulau Pari membentuk posko Pandu Laut Nusantara. Posko ini sebagai gerakan mencintai, menjaga, dan merawat laut serta pesisir. Gerakan ini gencar digalakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama para aktivis lingkungan.*

Tags: KKPSusi PudjiastutiWALHI
Bagikan2Tweet2KirimKirim
Previous Post

WALHI Prihatin 50 Persen Mangrove di Indonesia Rusak

Next Post

Tol Laut Belum Berdampak Terhadap Disparitas Harga

Postingan Terkait

Burung Indonesia Promosikan Produk Ramah Lingkungan Berbasis Mangrove di Pohuwato

Burung Indonesia Promosikan Produk Ramah Lingkungan Berbasis Mangrove di Pohuwato

27 April 2026
BRIN Kembangkan Kapal Pengolah Sampah untuk Kawasan Pesisir dan Pulau Kecil

BRIN Kembangkan Kapal Pengolah Sampah untuk Kawasan Pesisir dan Pulau Kecil

20 April 2026

Nelayan dan Warga Bersih Pantai di Pesisir Bone Bolango, Teluk Tomini

Limbah Makanan Meningkat, Ratusan Juta Orang Menghadapi Kelaparan

PBB Menobatkan 20 Kota Terpilih di Dunia Menuju Nol Limbah, Salah Satunya Kuala Lumpur Malaysia

Israel-AS Serang Depot Minyak di Teheran yang Bukan untuk Penggunaan Militer

Penelitian Terbaru Mikroplastik di Perairan Indonesia Ditemukan di Kedalaman 2 Kilometer

INC Pilih Ketua Baru untuk Memimpin Negosiasi Perjanjian Global Tentang Polusi Plastik

Next Post
Tol Laut Belum Berdampak Terhadap Disparitas Harga

Tol Laut Belum Berdampak Terhadap Disparitas Harga

Komentar tentang post

TERBARU

Hardiknas, Rektor UNG: Pendidikan Jantung Peradaban

Dari Mediterania hingga Arktik, Benua Eropa Mengalami Panas Tercepat, Tutupan Salju Menurun

Dosen UNG Menyoroti Gagal Bayar Pinjol Kalangan Anak Muda

60 Ribu Benih Ikan Dilepas di Sungai Poigar dan Mondaton Kabupaten Bolaang Mongondow

Krisis Selat Hormuz Mendorong Dunia Menuju Resesi

Ahli Desain Komunikasi Visual UNG: Banyak yang Meremehkan Pelanggaran Hak Cipta Visual dan Konten Jurnalistik

AmsiNews

REKOMENDASI

Rumpon Filipina di Perairan Sulawesi Utara Ditertibkan KKP

Ini 6 Rekomendasi LIPI Untuk Hidup Beradaptasi dengan Covid-19

Indonesia Masih Puncak Musim Hujan, Cuaca Lebaran 2026 Relatif Kondusif

Kapal Ikan Sinar Mas Terbakar di Laut Natuna Utara, 27 ABK Selamat

Saling Tidak Percaya, Perlucutan dan Pengendalian Senjata Nuklir Menghadapi Krisis

Puslitbang BMKG Bahas Dinamika Laut dan Iklim Indonesia

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.