Darilaut – Praktik perampasan ruang laut dan pesisir yang terjadi beberapa dekade terakhir bukan hanya mnghilangkan akses nelayan terhadap laut sebagai sumber penghidupan.
“Praktik-praktik tersebut menggambarkan pola perebutan ruang hidup yang mengorbankan masyarakat pesisir dan mengancam keberlanjutan ekologis,” kata Plt. Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengatahuan Sosial dan Humaniora Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Yan Riato, saat peluncuran buku “Merampas Laut, Merampas Hidup Nelayan” Kamis (15/5).
Kegiatan ini diselenggarakan BRIN bekerja sama dengan Indonesia Ocean Justice Initiative (IOJI), The Samdhana Institute, dan Asosiasi Antropolog Indonesia (AAI).
Buku ini diluncurkan sebagai bagian upaya mendokumentasikan dan mengkritisi praktik perampasan ruang laut dan pesisir, yang kian mengancam kehidupan nelayan dan masyarakat pesisir.
Tidak sekadar hasil riset akademik, buku ini hadir sebagai medium untuk mendengar langsung suara-suara dari lapangan, cerita tentang hilangnya akses nelayan terhadap laut sebagai sumber penghidupan, dan bagaimana ketidakadilan kerap luput dari narasi besar pembangunan nasional.
Menurut Yan, buku ini memberikan refleksi mendalam dan jujur atas praktik coastal and marine grabbing—perampasan wilayah pesisir dan laut oleh kekuatan besar yang sering kali dilegitimasi oleh kebijakan negara.




