Darilaut – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Gorontalo menyerukan keprihatinan mendalam atas bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada 25-27 November 2025. Tragedi ini merenggut 712 korban jiwa, sementara 507 orang masih hilang, dengan total kerugian ekonomi yang ditaksir mencapai Rp68,67 triliun. Temuan CNN Indonesia dan kajian ekonomi CELIOS juga mencatat dampak besar di tiga provinsi tersebut, baik dari sisi korban maupun kerusakan ekosistem.
Namun, WALHI menegaskan bahwa rangkaian bencana tersebut bukan semata fenomena cuaca ekstrem, melainkan bencana ekologis akibat kerusakan lingkungan yang terakumulasi selama bertahun-tahun. Di Aceh, misalnya, dari 954 daerah aliran sungai (DAS), 60 persen berada dalam kawasan hutan, namun dua puluh di antaranya kini berstatus kritis. Temuan WALHI menunjukkan tingkat penyusutan hutan yang signifikan, seperti DAS Singkil yang kehilangan 66 persen tutupan hutan, Peusangan 75 persen, dan Krueng Tripa 42 persen. Situasi ini membuat wilayah hulu kehilangan fungsi ekologisnya dalam menahan air hujan.
Di Sumatera Utara, kerusakan ekosistem mencapai tingkat lebih mengkhawatirkan. Menurut data CNN Indonesia dan CELIOS, bencana menelan 301 korban jiwa dan menyebabkan 163 orang hilang, dengan kerugian ekonomi sekitar Rp2,07 triliun. Salah satu wilayah terparah adalah Kawasan Ekosistem Batang Toru, yang sejak 2016-2024 kehilangan 72.938 hektare hutan akibat operasi 18 perusahaan ekstraktif, mulai dari pertambangan hingga proyek energi.




