Darilaut - Struktur es di Pegunungan Himalaya sedang berubah. Sehari sebelum dinding es, batu, dan air berlumpur menerjang lembah-lembah Himalaya di sepanjang perbatasan Nepal-Cina, Dr. Dipesh Chapagain sedang mendiskusikan dengan seorang rekan betapa dahsyatnya bencana semacam itu. Bagi peneliti iklim berusia 40 tahun yang tumbuh besar di perbukitan Nepal timur dan kini mempelajari bahaya pegunungan di Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNU) di Bonn, Jerman, topik ini memiliki dimensi profesional sekaligus sangat personal. Ia telah menyaksikan perubahan risiko yang dihadapi wilayah tersebut sepanjang hidupnya. "Saat saya masih kecil, kondisinya tidak seperti itu," ujar Dr. Chapagain kepada Fabrice Robinet dari UN News. "Atau saat orang tua maupun kakek-nenek saya masih kecil, hal itu bukanlah tantangan utama [yang mereka hadapi]." Gletser runtuh, lereng gunung ambruk. Kemudian, pada Rabu pagi pukul 08.37, lereng gunung di ketinggian Himalaya runtuh. Runtuhan itu begitu masif hingga instrumen seismik mencatatnya sebagai peristiwa berkekuatan magnitudo 5,2, yang awalnya dikira sebagai gempa bumi. Batuan dasar di bawah gletser mengalami kegagalan struktur, membawa massa es dan batu yang sangat besar meluncur sekitar 1.200 meter menuju dasar lembah. Air, sedimen, dan bongkahan batu besar menerjang sungai-sungai di bawahnya, menyapu kota dan desa di sepanjang salah satu jalur perdagangan terpenting Nepal dan Cina. Di sebuah stasiun pemantau, ketinggian air naik hingga sembilan meter hanya dalam waktu setengah jam. Hingga hari Jumat (28/8), lebih dari 500 orang dilaporkan tewas di seluruh wilayah Nepal dan Tibet, sementara lebih dari 1.500 orang masih dinyatakan hilang, termasuk ratusan warga negara asing. Keluarga inti Dr. Chapagain selamat dari bencana tersebut. Meski demikian, kabar itu tetap memberikan dampak emosional yang berat baginya. "Selalu sulit menerima kabar mengerikan seperti ini dari kampung halaman," katanya. "Kejadiannya semakin sering dan dampaknya semakin parah." Bencana ini merupakan gambaran nyata dan keras dari masalah yang telah diperingatkan oleh para ilmuwan iklim selama bertahun-tahun. Struktur es Himalaya sedang berubah, membuat jutaan orang terpapar bahaya yang semakin sulit diprediksi dan, dalam beberapa kasus, semakin destruktif. Lumpur menutupi Distrik Rasuwa di wilayah tengah-utara Nepal akibat banjir bandang yang menghancurkan, pada Rabu (26/8). FOTO: UNICEF/UN Bagaimana Runtuhnya Bagian Gunung Memicu Banjir Mematikan Para ahli masih menyusun rangkaian peristiwa yang berujung pada bencana hari Rabu tersebut. Analisis citra satelit menunjukkan bahwa batuan dasar di bawah gletser runtuh, melontarkan massa es dan batu dalam jumlah besar ke Lhende Khola—anak Sungai Bhotekoshi—dan memicu rentetan peristiwa destruktif yang terjadi kemudian. Mekanisme kejadian ini berbeda dari banjir akibat luapan danau glasial (glacial lake outburst floods) yang dipelajari oleh Dr. Chapagain dan rekan-rekannya di program Global Mountain Safeguard Research (GLOMOS) di wilayah Hindu Kush Himalaya. GLOMOS merupakan bagian dari Institut Lingkungan dan Keamanan Manusia UNU. Penelitian terbaru mereka menganalisis 493 kejadian banjir semacam itu, mulai dari catatan paling awal yang tersedia hingga tahun 2024. Hasilnya menunjukkan bahwa frekuensi kejadian ini meningkat sekitar lima kali lipat sejak tahun 1950, naik dari rata-rata sekitar tujuh kejadian per dekade menjadi 34 kejadian. Banjir semacam itu biasanya terjadi ketika air lelehan terkumpul di danau-danau di sekitar gletser yang menyusut, sering kali tertahan oleh es yang tidak stabil atau tumpukan batu dan sedimen yang lepas. Ketika bendungan alami tersebut jebol, air dalam volume sangat besar dapat terlepas hampir seketika. Bencana hari Rabu tampaknya melibatkan rangkaian peristiwa yang berbeda. "Kali ini, tahapan perantara tersebut tidak terjadi," ujar Dr. Chapagain. Alih-alih danau glasial yang jebol, batu dan es runtuh dari lereng gunung dan memicu aliran deras di bawahnya. Para peneliti sedang menyelidiki apakah material runtuhan tersebut sempat membendung sungai untuk sementara waktu sebelum akhirnya jebol—sebuah skenario yang menurut Dr. Chapagain belum dapat dipastikan kebenarannya. Bagi para ilmuwan, perbedaan ini penting. Di wilayah hilir, dampaknya bisa terlihat sangat mirip dan menakutkan: air, es, dan material runtuhan dalam volume besar meluap dengan peringatan minim menuju lembah sempit yang berpenghuni. Belum jelas apakah perubahan iklim menjadi penyebab runtuhnya material gunung pada hari Rabu tersebut. Namun, pemanasan global dengan cepat mengubah lingkungan dataran tinggi tempat bencana semacam itu terjadi. Seiring mencairnya gletser dan melunaknya lapisan tanah beku abadi (permafrost), batuan yang sebelumnya ditopang atau diikat oleh es bisa menjadi tidak stabil, sementara peningkatan volume air lelehan dapat semakin melemahkan lereng gunung. Dampaknya meluas jauh melampaui desa-desa di pegunungan. Wilayah Hindu Kush Himalaya menjadi sumber bagi 10 daerah aliran sungai utama yang menopang kehidupan sekitar 2,1 miliar orang dalam hal penyediaan air, pangan, energi, dan mata pencaharian. Citra satelit Planet Labs PBC memperlihatkan Timure, Nepal, sebelum dan sesudah banjir dahsyat. GAMBAR: PLANET LABS PBC/UN Berpindah ke Wilayah Rawan Bahaya Namun, bukan hanya pegunungan yang berubah. Geografi kehidupan manusia di bawahnya pun turut berubah. Dr. Chapagain menuturkan bahwa semasa kecilnya, keluarga-keluarga di banyak wilayah perbukitan Nepal secara tradisional membangun rumah di bagian lereng yang lebih tinggi, sembari menggarap sawah dan tanaman lain di lahan yang lebih datar di dekat sungai. Kebun di rumah keluarganya sendiri terletak di puncak gunung, sementara sawahnya berada di bawah, dekat sungai. Seiring berjalannya waktu, pembangunan jalan, tempat usaha, hotel, dan proyek pembangkit listrik tenaga air semakin terkonsentrasi di lembah sungai, tempat konstruksi lebih mudah dilakukan dan peluang ekonomi lebih besar. Menurut Dr. Chapagain, sumber air di beberapa permukiman dataran tinggi juga mulai mengering, sehingga mendorong warga untuk pindah ke wilayah yang lebih rendah. Hal ini menciptakan situasi pertemuan yang berbahaya: saat pemanasan global mengubah kondisi pegunungan di atas, semakin banyak orang dan infrastruktur yang berkumpul di jalur tempat air dan material longsoran mengalir turun. Lembah yang porak-poranda akibat banjir hari Rabu itu menjadi gambaran nyata dari benturan tersebut. Koridor Bhote Koshi-Trishuli merupakan jalur perdagangan utama menuju Kathmandu dan dipenuhi oleh pembangkit listrik tenaga air, jembatan, jalan raya, hotel, serta permukiman. Banjir tersebut merusak fasilitas kelistrikan serta memutus akses transportasi dan komunikasi di seluruh wilayah itu. Bahaya tersebut sebenarnya sudah terlihat jelas. Tahun lalu, peristiwa banjir akibat jebolnya danau glasial pernah melanda sistem sungai yang sama, menewaskan sembilan orang dan menyebabkan 24 orang lainnya hilang. Setiap Menit Sangat Berarti Bagi Dr. Chapagain, bencana hari Rabu itu juga menyingkapkan kelemahan krusial: betapa minimnya peringatan yang diterima masyarakat sebelum bencana yang bermula jauh di pegunungan mencapai tempat tinggal mereka. Ia menyebutkan bahwa pihak berwenang Nepal baru mengetahui adanya banjir saat air sudah mendekati perbatasan. Peringatan kemudian disebarluaskan ke wilayah hilir melalui pesan teks, media sosial, panggilan telepon, dan bunyi alarm. Menurut Dr. Chapagain, upaya mengurangi bahaya harus dimulai dari wilayah hulu: pemantauan berkelanjutan terhadap gletser dan lereng yang tidak stabil, pengamatan satelit, penggunaan alat pengukur cuaca dan debit sungai, serta sistem peringatan dini yang mampu memberikan cukup waktu bagi warga untuk mengungsi. Hal ini mengingat sungai dan gletser melintasi batas negara, Cina, Nepal, dan negara-negara yang berada lebih jauh di hilir juga harus saling bertukar data dengan cepat. Ada masalah yang lebih mendasar. Dr. Chapagain mengatakan, meskipun emisi gas rumah kaca turun drastis, gletser akan terus kehilangan massanya selama beberapa dekade akibat pemanasan yang sudah telanjur terjadi dalam sistem iklim. Namun, seberapa besar massa yang akhirnya hilang masih berada dalam kendali umat manusia. Namun, apa yang terjadi dalam waktu dekat justru jauh berbeda. Menurut pandangannya, hal itu menjadikan adaptasi bukan lagi sekadar persiapan untuk masa depan yang masih jauh. Bagi masyarakat di kaki pegunungan Himalaya, masa itu telah tiba, pada hari Rabu.