“Beda dengan Jepang yang tersistem, dan Amerika yang terkoordinasi dengan baik.”
Selain itu, aspek infrastruktur dinilai masih sangat beragam kualitasnya antar wilayah. Iwan menegaskan bahwa standar pembangunan harus menyesuaikan dengan kondisi iklim masa kini yang semakin ekstrem.
“Jika sekarang curah hujan bisa mencapai 411 mm per hari, maka pembangunan jembatan atau infrastruktur lainnya harus disesuaikan dengan standar baru tersebut. Jika tidak, dalam 10 tahun ke depan infrastruktur itu berpotensi kembali rusak.”
Dari sisi pendanaan, Iwan memaparkan bahwa kemampuan riset mitigasi bencana di Indonesia masih terbatas. Ia mendorong adanya komunikasi lebih intensif antar negara ASEAN untuk meningkatkan prediksi dan penanganan bencana secara regional, sebagaimana yang dilakukan negara maju.
Dalam hal teknologi EWS, Jepang unggul dengan satelit meteorologi Himawari-8/9, Amerika dengan GOES, serta Eropa dengan Meteosat. Model prediksi siklon seperti ECMWF, GFS, dan JMA pun telah memberikan akurasi tinggi, sehingga masyarakat dapat menerima peringatan 2-5 hari sebelum siklon mendarat.
Selain itu, negara maju juga secara rutin melaksanakan simulasi evakuasi, menyediakan shelter tahan angin 200 km/jam, memasang papan rute evakuasi standar internasional, hingga sistem SMS peringatan otomatis.




