Wahyu mengatakan BPPT tidak berhenti hanya sampai pengembangan Kapal Selam 32 Meter. Namun ini merupakan sebuah milestone dari pengembangan teknologi industri pertahanan/alutsista, khususnya kapal selam modern.
Wahyu mengatakan milestone tidak langsung ke rancang bangun kapal selam 60 meter dengan operation dan requirement yang lebih tinggi. “Alhamdulillah dari desain 22 meter yang dikembangkan bersama Balitbang Kementerian Pertahanan sudah ditingkatkan ke 32 meter untuk optimalisasi fungsi. Ini merupakan milestone bertahap,” ujarnya.
Menurut Wahyu apabila pemerintah ingin membangun prototype kapal selam, harus lengkap dan detail termasuk tahap mitigasinya. Prototype harus memenuhi standar dan design requirement dari pengguna, dalam hal ini misalnya TNI AL yang banyak memahami secara paripurna kebutuhan teknologi pertahanan bawah air.
“Harapan kami inovasi teknologi anak bangsa tidak kalah bersaing dengan produk luar, dikarenakan tidak sesuai dengan kebutuhan. Padahal ekosistem industri dalam negeri, bilamana diperlukan, dapat dipersiapkan untuk menyediakan kapal selam,” katanya.
Wahyu optimis tahun 2029 atau 2030 bisa melakukan rancang bangun secara mandiri. Ini semua bisa dicapai dengan dukungan penuh kebijakan dan pendanaan dari pemerintah serta konsorsium industri kapal selam.





Komentar tentang post