Bedanya, gempa kali ini berpusat pada kedalaman yang jauh lebih dangkal (15 km), sehingga menimbulkan dampak kerusakan fisik yang relatif berat pada bangunan infrastruktur serta memicu tsunami yang terobservasi hingga pesisir Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
Adapun aktivitas gempa susulan terdistribusi di sebelah utara Pulau Flores dengan kisaran magnitudo M 2,5 hingga M 6,2. Grafik pemantauan mengindikasikan bahwa tren rekaman gempa susulan saat ini belum mengalami peluruhan yang signifikan.
Berdasarkan peta intensitas guncangan (intensity map), BMKG mencatat guncangan terbesar mencapai skala VII MMI di daerah Aesesa (Kabupaten Nagekeo), Riung (Kabupaten Ngada), Kota Ambai, serta hasil observasi langsung mikro di kawasan Manggarai dan Ruteng. Skala VI MMI terukur di Wolowae (Nagekeo) dan Kota Bajawa, sementara skala V MMI dirasakan di sejumlah kawasan sekitarnya.
The United States of Geological Survey (USGS) atau Survei Geologi Amerika Serikat menyebutkan gempa bumi Laut Flores berkekuatan M 7,7 pada Sabtu (15/8) pagi, terjadi di lepas pantai utara NTT akibat sesar naik di kedalaman dangkal.
Gempa bumi dahsyat terjadi di wilayah yang aktif secara seismik dan didominasi oleh konvergensi antara lempeng Australia dan lempeng Sunda.



