Kerusakan ekosistem, kata Tjut Sugandawaty, juga terjadi terus-menerus dan semua usaha telah dilakukan untuk merestorasi kembali ekosistem yang rusak.
Pada tanggal 1 Maret 2019, di bawah Resolusi 73/284, Sidang Umum Perserikatan Bangsa-bangsa menyatakan bahwa tahun 2021-2030 sebagai Dekade PBB tentang Restorasi Eksosistem (2021-2030 the United Nations Decade on Ecosystem Restoration).
Terdapat beberapa usaha yang bisa dilakukan untuk mencegah krisis iklim.
Secara sederhana, kata Tjut Sugandawaty, hal-hal yang bisa kita lakukan adalah dengan 3R (Reuse, Reduce dan Recyle) untuk berusaha tidak menggunakan plastik. Bawa botol minum sendiri, bawa piring sendiri ketika mau makan.
Lalu apa hubungannya plastik dengan climate change? Menurut Tjut Sugandawaty plastik ketika dibuat prosesnya dibakar, lalu terkadang sampahnya juga dibakar. Ini menimbulkan masalah baru karena menghasilkan senyawa kimia yang dinamakan zat karsinogenik. Kyoto Protocol sudah mengatur tentang itu.
Pemerhati lingkungan Thalia V. Tamahagana, mengajak anak muda untuk turut mengedukasi diri dan berkontribusi mengenai perubahan iklim yang terjadi. Contoh aksi yang bisa dilakukan adalah memakai produk lokal atau bisnis kecil, beralih ke zero waste living dan bergabung dengan komunitas pemerhati lingkungan.





Komentar tentang post