Kepala Subdit Pemantauan dan Analissi Sumberdaya Ikan, KKP, Syahril Abdul Raup mengatakan, berdasarkan evaluasi pelaksanaan logbook, selama ini ditemukan beberapa kendala pelaporan logbook manual. Beberapa nelayan dan kapten kapal mengeluh menggunakan logbook manual karena bahan kertas yang mudah sobek, pengisian buku log manual yang dianggap merepotkan dan mengganggu kegiatan penangkapan ikan serta terjadinya kesenjangan data saat memasukkan ke dalam sistem di tengah-tengah laut.
Sementara itu, di satu sisi tantangan dalam mengelola sumber daya ikan saat ini membutuhkan ketersediaan data logbook yang akurat dan terbaru.
“Dukungan FAO ini telah berhasil meningkatkan jangkauan dan pengguna e-logbook secara total yang kini telah mencapai kurang lebih 7000 kapal,” ujar Syahrir.
Usaha menjaga kedaulatan laut Indonesia dan keberlanjutan sumberdaya ikan membutuhkan alat manajemen untuk memastikan arah dan upaya pengelolaan tersebut dapat memberi manfaat nyata secara ekonomi, sosial dan lingkungan.
Salah satu alat tersebut adalah pendataan pemanfaatan sumberdaya ikan dengan logbook. Program logbook diamanatkan oleh UU 45/2009 tentang Perikanan yang bertujuan untuk mendapatkan data tangkapan yang akurat, terkini dan obyektif.
Pelaksanaan program e-logbook sangat tergantung pada kemampuan sumber daya manusia pengguna logbook, yaitu nakhoda dan nelayan.*





Komentar tentang post