“Setiap bulan sejak Juni 2023 telah mencatat rekor suhu baru – dan tahun 2023 sejauh ini merupakan tahun terpanas yang pernah tercatat,” kata Wakil Sekretaris Jenderal WMO Ko Barrett.
Menurut Barrett, berakhirnya El Nino bukan berarti jeda, karena perubahan iklim jangka panjang akan terus terjadi karena planet kita akan terus memanas akibat gas rumah kaca yang memerangkap panas.
”Suhu permukaan laut yang sangat tinggi akan terus memainkan peranan penting selama beberapa bulan ke depan,” ujarnya.
Sembilan tahun terakhir merupakan rekor terpanas bahkan dengan pengaruh pendinginan La Nina multi-tahun dari tahun 2020 hingga awal tahun 2023. El Nino mencapai puncaknya pada bulan Desember 2023 sebagai salah satu dari lima tahun terkuat yang pernah tercatat.
Barrett, yang memimpin delegasi WMO pada sesi Perubahan Iklim PBB di Bonn, mengatakan, cuaca akan terus menjadi lebih ekstrem karena panas dan kelembapan ekstra di atmosfer. Inilah sebabnya inisiatif Peringatan Dini untuk Semua tetap menjadi prioritas utama WMO.
”Prakiraan musiman El Nino dan La Nina, serta antisipasi dampaknya terhadap pola iklim secara global merupakan alat penting untuk memberikan peringatan dini dan tindakan dini,” kata Barrett.
Kondisi La Nina umumnya mengikuti peristiwa El Nino yang kuat, dan hal ini sejalan dengan prediksi model terbaru, meskipun masih terdapat ketidakpastian yang tinggi mengenai kekuatan atau durasinya. Model prakiraan musiman pada saat ini diketahui memiliki “penghalang prediktabilitas musim semi” di Belahan Bumi Utara.




