Didanai oleh Global Environment Facility (GEF), upaya ini dirancang untuk melestarikan salah satu tempat dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, hamparan pepohonan dan lahan gambut yang menjadi rumah bagi lebih dari 11.000 spesies hewan dan tumbuhan, menurut World Wildlife Fund.
Upaya ini juga memiliki implikasi yang jauh melampaui Afrika Tengah. Cekungan Kongo merupakan gudang karbon yang sangat besar; rawa-rawanya sendiri menyimpan sekitar 29 miliar ton unsur yang menghangatkan planet ini—setara dengan emisi gas rumah kaca global selama tiga tahun.
“Cekungan Kongo merupakan ekosistem yang penting bagi planet ini,” kata George Akwah, seorang petugas manajemen program di UNEP.
“Melindunginya sangat penting untuk menjaga keanekaragaman hayati, melawan perubahan iklim, dan meningkatkan kehidupan jutaan orang.”
Lembah Kongo merupakan rumah bagi blok hutan hujan tropis terbesar kedua di dunia setelah Amazon. Ekosistem ini menghidupi puluhan juta orang dan, menurut sebuah studi dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, merupakan surga bagi satu dari lima spesies yang masih hidup.
Namun, ekosistem ini menghadapi ancaman yang semakin meningkat. Ekspansi pertanian dan pertambangan telah menyebabkan deforestasi yang meluas.




