Yang memperumit masalah, sekitar 63 persen warga ternyata masih kental berparadigma fatalis di mana mereka mengatakan sakit adalah takdir yang tidak bisa dicegah.
Selama pandemi Covid-19, Januari 2020 hingga Juni 2023, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) mencatat lebih dari 2.300 isu hoaks Covid-19 atau infodemik tersebar di media sosial.
Hoaks menimbulkan masalah dalam penanggulangan Covid-19, antara lain keengganan masyarakat untuk mematuhi protokol kesehatan, persepsi bahwa pandemi hanyalah konspirasi, dan keragu-raguan terhadap vaksinasi Covid-19. Infodemik juga memicu ketidakpercayaan masyarakat terhadap otoritas kesehatan dan melemahkan upaya penanganan kesehatan masyarakat.
Koordinator Pokja RCCE (Komunikasi Risiko dan Pelibatan Masyarakat), Rizky Ika Syafitri, mengatakan bahwa maraknya peredaran hoaks di Indonesia sangat berpengaruh pada perilaku pencegahan penularan Covid-19 termasuk vaksinasi.
Lebih daripada itu, hoaks juga memicu keraguan masyarakat terhadap layanan kesehatan esensial lainnya, seperti imunisasi rutin untuk anak.
Pokja RCCE melihat kebutuhan mendesak untuk memperkuat penanganan hoaks, dengan keterlibatan pemangku kepentingan, yakni pemerintah, masyarakat sipil, media, akademisi, praktisi, praktisi, anak muda dan sektor swasta.





Komentar tentang post