Wilayah otonom Tibet di Tiongkok juga terdampak. Xinhua melaporkan, hingga Jumat sore, 5 orang tewas dan 558 hilang setelah tanah longsor melanda pos lintas batas di wilayah Xizang –dikenal dengan Tibet.
Operasi pencarian dan penyelamatan masih terus berlangsung, dengan sejumlah besar orang yang belum diketahui keberadaannya, termasuk wisatawan asing.
Menurut pihak berwenang di Nepal, sekitar 10.000 rumah tangga membutuhkan bantuan segera. Permukiman, pasar, jalan, jembatan, dan infrastruktur pembangkit listrik tenaga air tersapu atau rusak, sementara akses jalan terputus dan pasokan listrik terganggu.
Juru bicara PBB Stefan Dujarric menyatakan bahwa jelas akan ada “kebutuhan kemanusiaan yang sangat besar.”
Peringatan Dini
“WMO menyampaikan belasungkawa kepada para korban bencana mengerikan ini dan menyatakan solidaritasnya dengan masyarakat yang terdampak banjir dahsyat ini,” ujar Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo.

Celeste Saulo mengatakan banjir Rasuwa menyoroti tantangan yang kian meningkat akibat bahaya berantai di wilayah pegunungan tinggi, di mana perubahan dan ketidakstabilan pada kriosfer dapat dengan cepat berubah menjadi dampak destruktif di wilayah hilir yang melintasi batas negara.
Peristiwa ini menegaskan perlunya menutup celah dalam rantai nilai peringatan—mulai dari pemantauan berkelanjutan dan deteksi dini terhadap bahaya yang muncul, ”hingga jaringan pengamatan yang tangguh, integrasi informasi satelit, in situ, meteorologi, dan hidrologi, serta pertukaran data yang cepat lintas batas negara,” ujar Celeste Saulo.



