Kondisi ini membuat kantong semar sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, mulai dari deforestasi, alih fungsi lahan, pertambangan, hingga dampak perubahan iklim.
“Keanekaragaman Nepenthes di Indonesia menghadapi tekanan serius akibat hilangnya habitat, degradasi ekosistem, dan perdagangan ilegal,” kata Mansur seperti dikutip dari Brin.go.id.
Karena itu, Mansur mendorong penerapan strategi konservasi yang terintegrasi melalui pendekatan konservasi in situ maupun ex situ.
Kini, ketika enam spesies Nepenthes Indonesia telah masuk kategori kritis menurut IUCN dan membutuhkan prioritas konservasi segera, kiprah Mansur menjadi semakin relevan.
Penelitian, eksplorasi, dan advokasi yang dilakukannya selama puluhan tahun telah memberikan fondasi ilmiah yang kuat bagi upaya pelestarian kantong semar di Indonesia.
Bagi Mansur, setiap langkah di hutan bukan sekadar perjalanan ilmiah. Di balik setiap spesies yang ditemukan dan setiap habitat yang dipelajari, tersimpan sebuah misi besar: memastikan bahwa generasi mendatang masih dapat menyaksikan keajaiban Nepenthes tumbuh alami di hutan-hutan Nusantara.




