Kita harus merespon informasi tersebut dengan upaya mitigasi yang konkret, dengan cara membangun rumah tahan gempa.
Kemudian, menata ruang pantai yang aman tsunami, belajar cara selamat saat terjadi gempa dan tsunami. Memahami evakuasi mandiri tsunami, dan meningkatkan kemampuan dalam merespon peringatan dini.
Gempa dan tsunami adalah proses alam yang tidak dapat kita hentikan, tetapi yakinlah bahwa kita mampu mengurangi risiko bencana dengan upaya mitigasi nyata dan sungguh-sungguh.
Gempa Majene dan Mamuju
Informasi gempa Majene dan Mamuju hingga Minggu 31 Januari 2021 pukul 14.00 WITA menunjukkan telah terjadi 38 kali gempa susulan (aftershocks).
Total jumlah gempa sejak terjadinya gempa pembuka (14/1) tercatat sebanyak 47 kali dengan aktivitas gempa dirasakan sebanyak 9 kali.
BMKG telah melakukan perhitungan peluruhan gempa Majene dan Mamuju berdasarkan data gempa susulan (aftershocks) sejak tanggal 15 s/d 30 Januari 2021. Hasil pehitungan peluruhan gempa menunjukkan bahwa gempa susulan diperkirakan akan berakhir sekitar tiga hingga 4 minggu pascaterjadinya gempa utama.
“Angka ini bukanlah nilai mutlak tetapi sebagai sebuah gambaran estimasi kapan berakhirnya gempa susulan,” kata Sadly.
Dengan memahami bahwa gempa Majene dan Mamuju memiliki produktivitas gempa susulan yang sangat rendah dan didukung perhitungan estimasi peluruhan gempa, maka zona gempa Majene dan Mamuju telah memasuki kondisi “post seismic”, mudah-mudahan situasi dan kondisi di Majene dan Mamuju segera aman kambali.





Komentar tentang post