Menurut Santosa, patroli pengawas Indonesia di wilayah perbatasan harus diperkuat. Seperti di Natuna utara di dekat garis batas ZEE Indonesia, dan wilayah perbatasan lainnya di Palau, Papua Nugini dan Timor.
Analisis GFW menunjukkan bahwa dari 2012-2014, lebih dari 90 persen kapal nelayan asing yang terdeteksi di perairan Indonesia membawa bendera Tiongkok atau Taiwan dan berukuran 80-1500 Gros Ton (GT). Analisis ini mengikuti studi baru-baru ini yang menggunakan data Sistem Vessel Monitoring System (VMS) Indonesia sebagai rujukan.
VMS digunakan untuk melacak armada industri perikanan Indonesia, dengan data satelit Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS), yang mendeteksi keberadaan kapal penangkap ikan yang menggunakan lampu terang untuk menarik tangkapan atau melakukan operasi di malam hari.
Pencocokan kedua set data dalam hampir waktu sebenarnya dapat sangat membantu pihak berwenang mengidentifikasi kapal gelap, atau kapal yang mematikan alat pelacak, kemungkinan untuk menghindari deteksi.
“Kepemimpinan Indonesia dalam membagikan data VMS-nya secara publik telah memungkinkan kami untuk mendukung pekerjaan pemerintah untuk lebih memahami beberapa masalah kelautan dan mengendalikan perikanan Indonesia,”kata Manajer Program Global Fishing Watch Indonesia, Ahmad Baihaki, Rabu (24/7).





Komentar tentang post