“Skenario jangka menengah berupa blokade selama tiga bulan akan memengaruhi semua petani di seluruh dunia, dan kemudian kita akan menghadapi berbagai elemen yang dapat berdampak terutama pada musim berikutnya,” ujar Torero, merujuk pada penurunan hasil panen dan substitusi.
Situasi ini juga dapat memicu persaingan dari sektor biofuel, terutama jika harga minyak naik di atas $100 per barel. Meskipun petani akan mendapat manfaat, “ini akan buruk bagi konsumen karena harga akan meningkat.”
Negara-negara yang Rentan
Dalam jangka pendek, prioritas harus diberikan kepada negara-negara seperti Sri Lanka dan Bangladesh, di mana panen padi sedang berlangsung saat ini.
Negara-negara Afrika yang bergantung pada impor pupuk juga rentan, katanya, meskipun “eksportir besar” seperti Argentina, Brasil, dan Amerika Serikat juga akan terpengaruh.
Mengenai Teluk, Torero mencatat bahwa harga pangan sudah “melonjak” di Iran. Meskipun negara tersebut memproduksi sekitar 70 persen dari pasokannya sendiri, sisanya diimpor.
Sementara itu, “importir pangan besar” seperti Qatar dan Uni Emirat Arab akan menghadapi tantangan karena tidak ada kapal yang menuju ke wilayah tersebut.
Negara-negara Teluk juga menampung jutaan pekerja migran dari Asia Selatan dan Afrika Timur. Kiriman uang ke tanah air mereka dapat menurun jika konflik berlanjut.




