MAGRIB telah lewat pukul 17.57 Waktu Indonesia Tengah (Wita) di Teluk Palu. Waktu menunjukkan pukul 18.36.12. Inilah saat diakhiri peringatan tsunami yang dikeluarkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) atau pukul 17.36.12 WIB (Waktu Indonesia Barat).
Biasanya, jam 18.30, suasana di pesisir Teluk Palu sudah remang-remang. Dengan kondisi matahari yang sudah kembali ke peraduan, apakah memungkinkan mendapatkan rekaman gambar yang jelas ketika tsunami terjadi?
Beberapa video peristiwa tsunami Palu-Donggala, Jumat (28/9) beredar di media sosial. Hampir semua video yang beredar ini direkam dengan gambar yang jelas.
Jam berapa gelombang tsunami ini pertama kali terjadi? Untuk menelusuri peristiwa awal tsunami ini, darilaut.id melihat kembali flightradar 24 keberangkatan Batik Air ID6231.
Sesaat setelah lepas landas, flightradar tidak dapat mendeteksi posisi pesawat Batik Air ID6231. Ini lantaran, saat terjadi gempa, sistem listrik mengalami down. Dengan demikian, receiver flightradar di sekitar Bandara Mutiara SIS Al-Jufrie Palu tidak berfungsi. Sistem tidak mengirimkan data ke server flightradar.
Catatan keberangkatan Batik Air ID6231 sebelumnya dapat dilihat untuk penerbangan yang sama. Saat airbone hingga mencapai Teluk Palu hanya tiga menit.
Batik Air berangkat dari Bandara Mutiara, menuju bandara Hasanuddin, Makassar, bersamaan dengan terjadinya gempa.
Pilot Batik Air bernama Ricosetta Mafella merekam peristiwa tsunami, setelah lepas landas. Video ini dapat dilihat di akun instagram @icoze_ricochet.
Keberangkatan bersamaan dengan gempa ini menewaskan petugas AirNav Anthonius Gunawan Agung yang sementara bertugas.
Gempa Donggala terjadi pada Jumat (28/9) pukul 17.02.44 WIB (18.02.44 Wita). Gempa ini dengan kekuatan magnitude 7,4 skala Richter (SR). Lokasi berada di 0.20 Lintang Selatan dan 119.89 Bujur Timur, pada kedalaman 11 kilometer. Info gempa dan peringatan tsunami disampaikan BMKG.
Batik Air ID6231 telah lepas landas, jam 18.02. Pilot Ricosetta yang menerbangkan pesawat ini sudah berada di atas Teluk Palu. Melihat ada yang berbeda di permukaan laut di Teluk Palu, pilot merekam fenomena tersebut. Air laut di pinggir pantai seperti membentuk lubang, melingkar cukup besar.
Dengan mengambil posisi jam 18.02 Wita lepas landas, selanjutnya pesawat sudah berada di udara 8 sampai 10 menit. Pengambilan gambar ketika terjadi tsunami dari atas pesawat oleh pilot Batik Air, antara pukul 18.10 sampai 18.12 Wita.
Pilot Batik Air tidak berputar-putar selama setengah jam di atas Teluk Palu. Karena pada pukul 18.21 pesawat ini sudah berada di Provinsi Sulawesi Barat.
Bagaimana dengan penjelasan BMKG? Pengecekan pada alat pemantau ketinggian gelombang (tide gauge) di Mamuju. Hasil observasi tide gauge, tercatat adanya perubahan kenaikan muka air laut setinggi 6 sentimeter pukul 17.13 WIB (18.13 Wita).
Dengan melihat catatan terjadi kenaikan muka air laut di Mamuju pada pukul 18.13, hasil ini sejalan dengan waktu perkiraan perekaman yang dilakukan Pilot Batik Air antara jam 18.10 – 18.12.
Hasil pemodelan BMKG, gempa ini berpotensi menimbulkan tsunami dengan level tertinggi SIAGA di Donggala Barat. Estimasi ketinggian gelombang tsunami 0,58 meter. Estimasi waktu tiba 17.22.43 WIB (18.22.43 Wita).
Berdasarkan analisis sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang diperoleh dari para ahli tsunami (ITB, LIPI, BPPT) tsunami disebabkan, pertama, di bagian Teluk Palu disebabkan adanya longsoran sedimen dasar laut di kedalaman 200-300 meter.
Sedimen dari sungai-sungai yang bermuara di Teluk Palu belum terkonsolidasi kuat sehingga runtuh/longsor saat gempa, dan memicu tsunami. Indikasinya: naik turunnya gelombang dan air keruh.
Kedua, di bagian luar dari Teluk Palu disebabkan oleh gempa lokal. Airnya lebih jernih.
Menurut BMKG, berdasarkan hasil update mekanisme sumber gempa yang bertipe mendatar (strike slip) dan hasil observasi ketinggian gelombang tsunami –serta telah dilewati perkiraan waktu kedatangan tsunami, maka Peringatan Dini Tsunami (PDT) ini diakhiri pada pukul 17.36.12 WIB (18.36.12 Wita).
Monitoring BMKG hingga Pukul 18.21 WIB (19.21 Wita), telah terjadi 7 gempa susulan. Gempa ini tercatat dengan magnitude, masing-masing M6,3, M6,2, M6,2, M4,7, M5,6, M5,0 dan M6,1.
Fenomena tsunami akibat gempa Donggala menjadi catatan penting dalam pergerakan gelombang. Gelombang besar terjadi lebih dari sekali.
Sebagaimana gelombang besar tsunami, yang ketiga paling dahsyat. Sementara dua puncak gelombang, tidak lama berselang terlihat dari rekaman video didarat.
Konfigurasi dasar laut, dengan teluk yang berbentuk V, seperti pada Teluk Palu, memberikan efek corong yang dapat menyebabkan gelombang sangat besar.
Peristiwa ini masih dalam kisaran peringatan dini tsunami. Hal ini bisa dilihat dari rekaman gambar video dan foto yang masih jelas terlihat. Peringatan tsunami berakhir pukul 18.36 Wita, saat malam mulai beranjak, 29 menit sebelum shalat Isya, jam 19.05 Wita.*
Untuk Laporan Khusus ini, Verrianto Madjowa menuliskan dalam beberapa bagian. Bahan tulisan dikumpulkan dari Dr Ing Widodo S Pranowo (Peneliti di Laboratorium Data Laut & Pesisir, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia, Kementerian Kelautan dan Perikanan), keterangan tertulis Dr Ir Muhamad Sadly MEng (Deputi Bidang Geofisika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, BMKG), Fatuhri dan Hasan A Efendi (BMKG Gorontalo), Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Rekaman video tsunami di Palu, diskusi melalui grup WhatsApp dan riset pustaka. Tulisan tsunami Dr Anugerah Nontji (1987 dan 1993) sebagai bahan tulisan yang hingga kini masih tetap relevan.#
