Senin, September 21, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Konservasi

Monumen Alam di Pantai Panoea

redaksi
10 Juni 2020
Kategori : Konservasi, Laporan Khusus
0
Monumen Alam di Pantai Panoea

Pasangan burung maleo (Macrocephalon maleo). FOTO: HANOM BASHARI/EPASS

Sketsa tempat bersarang burung maleo di Panoea. A Uno/TECTONA (1949)

Maleo di Panua bersarang di pantai berpasir. Tapi, tidak semua pantai berpasir akan menjadi tempat peneluran burung maleo, yang datang berpasangan, jantan dan betina.

Secara bergantian pasangan maleo ini menggali lubang yang cukup dalam. Setelah bertelur, sarang akan ditutup. Tak lupa dibuat pula lubang-lubang palsu, untuk mengelabui predator.

Selain di pantai berpasir, maleo bersarang di pinggir sungai dan dalam hutan yang mengandung energi panas bumi.

Pantai berpasir atau yang bercampur tanah tempat bertelur maleo, biasanya dengan suhu yang bervariasi. Suhu maksimal hingga 36 derajat Celcius.

Di Panua, menurut Dr Rodney V. Salm (1984) mangrove sudah dilindungi sejak 1938. Perlindungan kawasan ini dilakukan melalui peraturan bernomor GB 3-11-1938 no 11 Stbl 620.

Cagar Alam Panua tercatat sebagai kawasan konservasi laut (marine conservation) pertama di Teluk Tomini.

Hutan mangrove dan burung maleo sudah menjadi perhatian sejak masa pemerintahan Hindia Belanda. Diusulkan sebagai kawasan lindung pada 1936 dan ditetapkan 1938. Luas kawasan mangrove yang dilindungi 1500 hektare.

Pemerintah Indonesia kemudian menetapkan sebagai kawasan lindung melalui SK Menteri Kehutanan dengan nomor 252/KPTS-II/1984 tertanggal 26 Desember 1984. Selanjutnya, keputusan itu direvisi lagi dengan surat keputusan Menteri Kehutanan nomor 471/KPTS-II/1992 tanggal 22 Mei 1992.

Halaman 2 dari 4
Sebelumnya1234Selanjutnya
Tags: Burung MaleoCagar Alam PanuagorontaloMacrocephalon maleoteluk tomini
Bagikan6Tweet3KirimKirim
Previous Post

2 Tahun Darilaut.id

Next Post

Membahas Maleo di Hari Lingkungan Hidup

Postingan Terkait

Mengurai Karbon Biru di Ekosistem Mangrove dan Lamun

Peneliti Temukan Laju Kehilangan Mangrove Global Melambat

20 September 2026
Kearifan Lokal Raja Ampat Diwariskan Untuk Menjaga Kelestarian Pesisir dan Laut

Kearifan Lokal Raja Ampat Diwariskan Untuk Menjaga Kelestarian Pesisir dan Laut

16 September 2026

Aplikasi Semi-Digital untuk Monitoring Penyu

Kawasan Konservasi Perairan Maluku Capai 4,3 Juta Hektare

Perburuan Paus, Praktik Grindadráp di Kepulauan Faroe Berbeda dengan Lamalera

Konservasi Paus Berkelanjutan di Lamalera Laut Sawu Nusa Tenggara Timur

BRIN Bahas Konservasi Integratif Paus Berbasis Kosmologi Hidup Masyarakat Adat Lamalera

Lamalera Spesialis Menangkap Paus Bergigi, Lamakera Tak Bergigi

Next Post
Membahas Maleo di Hari Lingkungan Hidup

Membahas Maleo di Hari Lingkungan Hidup

Komentar tentang post

TERBARU

Sinyal Galileo Verifikasi Jamming dan Spoofing

Peneliti Temukan Laju Kehilangan Mangrove Global Melambat

Proses Kasus Bom Ikan di Kepulauan Kapoposang Berlanjut ke Kejaksaan

Kementerian Pariwisata Meminta Aparat Mengusut Semua Pihak yang Terlibat Perburuan Penyu di Raja Ampat

Membangun Variabel Iklim dan Ekosistem di Maladewa

Maladewa Beradaptasi dan Menyelaraskan Data Iklim Menjadi Tindakan Nyata

AmsiNews

REKOMENDASI

Fakultas Sastra UNG Komitmen Untuk Peningkatan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Trans Sulawesi di Talumolo Tak Bisa Dilewati Kendaraan

Tim Pinisi Open Ship di Pulau Selaru

Gempa Palu M6,7 Akibat Aktivitas Sesar Aktif

Hasil Penelitian, Polri Harus Mendorong Pertambangan Rakyat Berkelanjutan

APBD 2024 Kota Gorontalo Diarahkan Untuk Pendidikan dan Pengembangan SDM

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.