Darilaut – Peneliti bidang Oseaonografi Fisika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Adi Purwana mengatakan, setiap laut memiliki ‘sidik jari’ karena karakteristik dan massa air yang sangat kontras pada masing-masing laut. ‘Sidik jari’ laut ini dibedakan dengan temperatur dan dan salinitas.
Arus laut lintas Indonesia (Arlindo) memiliki arus sebanyak 12 Sverdrup (Sv) atau 12 juta kubik air per detik, setara dengan 631.578.947 galon/detik.
“Kapal Riset Baruna Jaya VIII dilengkapi dengan perlengkapan observasi ADCP 75 kHz RDI untuk mengukur arus dan echo intensity. Ada pula CTD untuk mengukur daya konduksi, temperatur dan kedalaman laut,” kata Adi.
Menurut peneliti Pusat Penelitian Laut Dalam LIPI, Mummad Fadli, data-data yang didapatkan dari Ekspedisi Indonesia Timur 2021 penting untuk memprediksi kondisi laut dan atmosfir yang dapat digunakan untuk mitigasi fenomena ekstrim dan perubahan iklim.
Atmosfir berhubungan dengan kondisi laut, oleh karena itu memahami laut adalah hal penting.
“Jika suhu laut dingin maka akan memengaruhi iklim, begitu pula jika tidak terjadi pencampuran arus laut, maka dapat menyebabkan bleaching atau karang-karang yang mati, sehingga memengaruhi ekosistem laut. Mooring bertujuan untuk mengukur suhu, arus, dan salinitas laut,” kata Fadli. Fadli dalam ekspedisi ini masuk dalam tim mooring.





Komentar tentang post