OCHA melaporkan bahwa sekitar 19 sekolah mengalami kerusakan, sembilan di antaranya hancur total, dan delapan lainnya digunakan sebagai tempat penampungan bagi keluarga-keluarga yang mengungsi, sementara lebih dari 10.000 anak usia sekolah membutuhkan dukungan psikososial.
Yang paling mendesak, menurut Dujarric, laporan awal mengindikasikan adanya kemungkinan 107 anak terpisah dari orang tua atau pengasuh mereka, sehingga tim tanggap darurat harus memprioritaskan upaya pelacakan dan penyatuan kembali keluarga.
Bencana Belum Berakhir
Kamal Kishore, kepala Kantor PBB untuk Pengurangan Risiko Bencana (UNDRR), menyoroti peristiwa runtuhnya gletser yang belum pernah terjadi sebelumnya ini dan memperingatkan pekan lalu bahwa “kita masih berupaya memahami sepenuhnya besarnya dampak kerusakan yang terjadi.”
Bencana ini juga berdampak pada wilayah perbatasan di sisi Tibet.
Kepala urusan iklim PBB, Simon Stiell, mengatakan bahwa bencana ini menjadi pengingat betapa rentannya lingkungan pegunungan saat ini, seraya mencatat bahwa para ilmuwan dan masyarakat setempat telah bertahun-tahun memperingatkan tentang risiko perubahan iklim di wilayah tersebut.
“Kita juga tahu bahwa pemanasan iklim—yang dipicu oleh aktivitas manusia dalam membakar batu bara, minyak, dan gas dalam jumlah sangat besar—membuat tragedi seperti ini,” ujarnya.




