“Tantangan sebenarnya adalah bagaimana memastikan bahwa pesan peringatan dini dapat diterima hingga lapisan paling bawah. Bukan hanya itu, pesan peringatan dini juga harus dapat dimengerti dan ditanggapi dengan tepat. Ini merupakan pekerjaan rumah untuk bekerja lebih keras agar upaya tersebut makin efektif,” kata Dwikorita.
Sekretaris Jenderal WMO, Prof. Petteri Taalas, mengatakan, kondisi iklim global dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir telah berubah drastis iklim menjadi lebih panas yang disebabkan oleh efek gas rumah kaca.
Akibat dari perubahan iklim global sering terjadi peristiwa ekstrem di berbagai belahan dunia, seperti pada Juni 2021 terjadi gelombang panas di Pasifik Barat Laut dan pada Juli 2021 Jerman lebih sering terjadi banjir.
Oleh karena itu, dalam kesempatan ini Petteri Taalas menyampaikan visi WMO terhadap isu perubahan iklim global.
“Pada tahun 2030, kita melihat dunia di mana semua negara terutama negara yang paling rentan, lebih tahan terhadap sosial ekonomi konsekuensi dari cuaca ekstrem, iklim, air dan peristiwa lingkungan lainnya dan mendukung mereka dalam pembangunan berkelanjutan melalui jasa, baik di darat, di laut atau di udara,” kata Taalas.
Taalas juga mengapresiasi kinerja BMKG dalam upaya penguatan sistem peringatan dini multi bencana.





Komentar tentang post