Dengan kekuatan sebagai siklon tropis, Freddy adalah sistem yang berbahaya. Sistem ini membawa angin yang merusak, hujan deras, gelombang badai, dan laut yang ganas. Kondisi ini dapat menyebabkan tanah longsor dan banjir bandang, serta risiko lainnya yang mungkin terjadi.
Tinggi gelombang signifikan maksimum adalah 6,7 meter, kata JTWC.
Dalam perjalanan Topan Freddy sejak awal Februari hingga 8 Maret sedikitnya 21 orang tewas, 10 di Mozambik dan 11 di Madagaskar.
Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mencatat meski tidak mendarat di Madagaskar, hujan deras mengguyur Kota Toliara dan sekitarnya, yang menyebabkan sedikitnya empat orang tewas, lebih dari 13.000 orang mengungsi, dan 3.800 rumah mengalami banjir atau rusak.
Pada 5 Maret, Freddy berada dalam jarak 20-30 kilometer dari kota Toliara di wilayah Atsimo-Andrefana.
Angin kencang dan hujan lebat akan berlanjut di sebagian besar Madagaskar selatan, khususnya di wilayah Atsimo-Andrefana.
Semua wilayah barat dan barat daya telah ditempatkan pada siaga merah, kuning atau hijau oleh Meteo Madagaskar. Ketinggian air sungai meningkat secara signifikan dan jika Sungai Fiherenana meluap, ada risiko banjir di beberapa bagian kota Toliara.
Sebelumnya, Freddy mendarat pertama kalinya di pantai timur Madagaskar pada 21 Februari, yang berdampak pada sedikitnya 226.000 orang. Menurut pemerintah setempat dan mitra kemanusiaan, sebanyak 148.000 membutuhkan bantuan kemanusiaan.





Komentar tentang post