Hasil kerja sama tersebut terwujud dalam pelaksanaan “Gebyar Pekan Vaksinasi Inklusif” di lima kabupaten, antara lain Kabupaten Maros, Pinrang, Enrekang, Bone dan Gowa. Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 760 orang mendapat vaksinasi, termasuk 371 perempuan, 186 penyandang disabilitas, dan 32 lansia. Selain itu, 152 orang mengakses layanan pencatatan sipil yang disediakan bersamaan dengan vaksinasi.
Dalam sambutannya, Arman yang mewakili Gubernur Sulawesi Selatan mengatakan, pemerintah provinsi telah mendorong efektivitas komunikasi risiko untuk mewujudkan vaksinasi Covid-19 yang inklusif. Hal ini mengingat pelaksanaan vaksinasi merupakan ikhtiar dalam upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dengan menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity).
“Dalam situasi saat ini komunikasi risiko sangat tepat digunakan dalam memberikan informasi guna meningkatkan pengetahuan dan pemahaman terhadap risiko penyakit yang belum ada sebelumnya,” katanya.
“Diharapkan masyarakat dapat melakukan tindakan yang tepat untuk mempersiapkan berbagai upaya dalam menghadapi penyakit-penyakit yang akan datang.”
Sementara itu, Junaedi yang mewakili Kepala Bappelitbangda Provinsi Sulawesi Selatan mengatakan, saat ini masih banyak anggota masyarakat yang terjebak dalam hoaks dan miskonsepsi bahwa vaksinasi dapat melemahkan daya intelektualitas, mengancam kesehatan, dan memperpendek usia hidup.





Komentar tentang post