Darilaut – Pemicu terjadinya tanah longsor (gerakan tanah) di Desa Pangkalan, Kecamatan Serasan, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, diperkirakan karena curah hujan ekstrem dan kemiringan lereng tebing yang curam.
Curah hujan yang tinggi/ ekstrem dengan durasi lama sebagai pemicu terjadi gerakan tanah, kata Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Tanah longsor yang terjadi pada Senin (6/3) memberikan dampak 10 orang meninggal, dan kemungkinan 50 orang hilang dan masih dalam pencarian. Selain korban meninggal dan hilang, aliran listrik dan sinyal ikut terganggu.
Faktor penyebab tanah longsor lainnya di Desa Pangkalan diperkirakan karena tanah pelapukan yang tebal dari batuan tua (Pra Tersier) berupa lapukan Granodiorit.
Dalam “Tanggapan Bencana Gerakan Tanah di Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau” Pusat Vulkanologi menjelaskan jenis bencana gerakan tanah yang terjadi diperkirakan berupa aliran bahan rombakan (debris flow).
“Tiga kampung di area sekitar longsor telah mengungsi ke tempat yang lebih aman, karena masih terjadi longsor susulan,” kata Pusat Vulkanologi.
“Warga yang mengungsi di antaranya Kampung Genting, Air Raya, dan Kampung Air Sekain.”
Berdasarkan Peta Geologi Regional Natuna (Pusat Survey Geologi) batuan penyusun di daerah bencana termasuk dalam Batuan Plutonik Serasan yang tersusun Granodiorit biotit dan Granit hornblenda dengan helatan metasedimen.





Komentar tentang post