Prof Barti mengatakan, penggunaan bioindikator serta pemodelan pertumbuhannya dapat menunjukkan kondisi ekologis perairan secara lokal, spesifik, dan dapat menggambarkan integrasi efek perubahan lingkungan jangka pendek.
Penggunaan makrozoobentos di Indonesia memiliki banyak potensi untuk dikembangkan dan memberikan kemudahan dalam pemantauan di lapangan serta dapat dipantau lebih lanjut.
Penilaian kualitas air permukaan dengan parameter kimia-fisika belum efektif dalam memberikan perlindungan dan pengendalian kerusakan ekosistem badan air. Sehingga pada umumnya, parameter tersebut hanya menggambarkan kondisi kualitas air saat pengambilan sampel dan tidak mencerminkan kualitas air yang real.
“Maka dari itu diperlukan indikator yang ada di lokasi air yang tercemar. Indikator tersebut merupakan makhluk hidup yang menjadi salah satu parameter yang menentukan kondisi badan air,” kata Prof Barti.*





Komentar tentang post