“Ada keuntungan ekologis dan ekonomis,” kata Zulham, yang juga dosen pembimbing lapangan Kelompok Lamborgini melalui Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
Zulham mengatakan program ini akan terus didorong untuk pertanian sirkular. Apalagi di Fakultas Pertanian UNG ada Agribisnis, Agroteknologi, Teknologi Pangan, dan Peternakan, sebagai modal sosial untuk berkolaborasi lintas disiplin agar bisa bermanfaat bagi masyarakat luas.
Secara umum, pogram ini untuk mengusung kampanye pertanian organik untuk pemanfaatan lahan sempit.
Sementara di Provinsi Gorontalo, banyak petani yang membuka lahan di lereng. Membuka lahan dianggap satu-satunya jalan untuk meningkatkan pendapatan.
Padahal, kata Zulham, “lahan yang sempit jika dikelola dengan baik dan pemilihan komoditas yang tepat, dapat memberikan keuntungan yang berlipat ganda tanpa harus membuka lahan utamanya di lereng yang berpotensi merusak lingkungan.”
“Kuncinya adalah kesadaran, kebijaksanaan dan pemanfaatan teknologi yang tepat.”
Sebagai contoh, dalam program ini, mahasiswa bersama-sama dengan petani di KT Al-Hidayah, menggunakan limbah untuk membuat pupuk organik, serta menggunakan mulsa dan irigasi tetes untuk penggunaan air yang efisien.




