Untuk itu, BMKG menggelar Sekolah Lapang Gempabumi di Kabupaten Malang, Jawa Timur, tanggal 8 – 9 Juni 2021. Kegiatan Sekolah Lapang Gempabumi berlangsung dengan protokol kesehatan ketat untuk mencegah penularan Covid-19.
Dwikorita, mengatakan Sekolah Lapang Gempabumi yang digelar di Kabupaten Malang sebagai bentuk respon kerawanan gempa dan tsunami di wilayah ini.
Gempabumi di wilayah ini, kata Dwikorita, dipengaruhi keberadaan sesar lokal di antaranya, Sesar Waru, Sesar Blumbang, Sesar Surabaya, dan lain-lainnya.
Menurut Dwikorita, gerakan-gerakan mandiri untuk masyarakat menjadi sangat penting. Misalnya dengan pelatihan dan membuat peta bahaya tsunami.
“Jadi kalau misalnya, tidak ada perhatian pemerintah, bekal peta itu saja disusun lalu buatlah jalur evakuasi bersama-sama warga dusun,” kata Dwikorita.
Selain itu, Dwikorita juga mengajak masyarakat secara bersama-sama menyusun rencana kedaruratan. Terutama generasi milenia untuk menyusun rencana kedaruratan ini.
“Rencana kedaruratan kalau sewaktu-waktu terjadi gempa, apa yang harus dilakukan, siapa melakukan apa, termasuk lansia. Maksudnya ada lansia, ada wanita hamil, ada kaum difabel,” katanya.
Dwikorita mengatakan Sekolah Lapang Gempabumi ini dalam rangka menyiapkan rencana kedaruratan, penyusunan peta, hingga simulasi. Masyarakat yang mengikuti pelatihan Sekolah Lapang Gempabumi menginstal aplikasi ponsel yang disiapkan BMKG.





Komentar tentang post