Pandangan serupa disampaikan Rais PWNU Gorontalo, dr. KH. Burhanudin Umar, yang menilai bahwa bencana yang terjadi semestinya menjadi momentum bagi seluruh struktur NU untuk memperkuat solidaritas nasional.
“NU didirikan untuk memberi manfaat seluas-luasnya. Jangan sampai persoalan internal mengurangi kualitas khidmah kita terhadap mereka yang sedang membutuhkan.”
Burhanudin menambahkan bahwa sejarah panjang NU menunjukkan bahwa organisasi ini selalu menjadi garda terdepan dalam penanganan bencana, sehingga stabilitas internal sangat penting untuk menjaga ritme pelayanan di lapangan.
PWNU Gorontalo bersama seluruh PCNU di tingkat kabupaten/kota di Provinsi Gorontalo juga mendorong PBNU agar segera meredakan ketegangan internal melalui mekanisme tabayyun dan musyawarah. Dua prinsip dasar dalam tradisi organisasi NU itu dinilai mampu menjadi jalan tengah untuk meredakan kesalahpahaman dan menghindari perpecahan yang dapat menjalar ke daerah.
Katib PWNU Gorontalo, KH. Abdullah Aniq Nawawi, menegaskan pentingnya penyelesaian yang berpijak pada AD/ART dan nilai persaudaraan dalam jam’iyyah NU.
“Musyawarah yang jernih adalah kunci. Jika ketegangan terus berlanjut, bisa menurunkan efektivitas gerakan kemanusiaan NU.”
Menurutnya, inti dari gerakan NU adalah pelayanan sosial, pendidikan, dan kemanusiaan, sehingga dinamika yang mengganggu fokus pengabdian tersebut harus segera disudahi.




