Sesi pertama Dialog Global tentang Tata Kelola AI diadakan di Jenewa awal bulan ini. Pemerintah dan pemangku kepentingan berkumpul untuk melakukan diskusi terbuka, transparan, dan inklusif tentang tata kelola kecerdasan buatan.
Inisiatif-inisiatif terbaru ini dimaksudkan untuk membantu negara-negara berbagi keahlian, mempromosikan standar umum, dan memastikan negara-negara berkembang memiliki suara yang lebih kuat dalam membentuk masa depan teknologi ini.
Guterres mengatakan fase selanjutnya harus fokus mengubah komitmen tersebut menjadi dukungan praktis sehingga semua negara dapat memperoleh manfaat dari perkembangan AI yang pesat.
Menutup Kesenjangan
Sekretaris Jenderal mengatakan AI memiliki potensi yang sangat besar untuk mempercepat terobosan medis, mentransformasi pendidikan, memperkuat sistem pangan, dan menciptakan lapangan kerja, membantu mendorong kemajuan menuju Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Namun, ia memperingatkan bahwa banyak negara berkembang masih berisiko tertinggal.
“Sepertiga umat manusia masih belum terhubung ke internet,” catatnya, sementara daya komputasi, keahlian teknis, dan investasi masih sangat terkonsentrasi di sejumlah kecil negara dan perusahaan.
Kecuali kesenjangan tersebut diatasi, AI dapat menyebabkan “ketidaksetaraan yang lebih besar, kesenjangan yang lebih besar dalam pendapatan, kesempatan, dan keamanan”.



