Pada November 2019, tengkorak dan tulang belulang babirusa ditemukan BKSDA yang sedang melakukan patroli rutin di kawasan Suaka Alam Masbait.
Hal tersebut menjadikan BKSDA Maluku berupaya untuk mendapatkan bukti langsung keberadaan babirusa di Pulau Buru. Terutama pada areal ditemukannya tengkorak dan tulang belulang Babirusa.
Upaya tersebut mendapat dukungan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati – Ditjen KSDAE melalui Project EPASS (Enhancing the Protected Area System in Sulawesi for Biodiversity Conservation).
Proyek ini, tahun 2020, menghibahkan peralatan survei berupa 20 buah kamera jebak dan 1 buah GPS kepada Balai KSDA Maluku.
Berdasarkan peralatan kamera tersebut, pada 2021, BKSDA Maluku memperoleh hasil rekaman keberadaan babirusa. Dari 10 kamera jebak, hanya 1 kamera yang tidak merekam keberadaan Babirusa.
Camera Trap tersebut dipasang sejak April sampai Juni 2021 pada 7 lokasi yang merupakan area lintasan satwa.
Lokasi kamera berada di areal berkubang atau bermain satwa, saltlicks (air garam) ataupun mencari pakan.
Kepala Balai KSDA Maluku, Danny H Pattipeilohy, mengatakan selanjutnya akan merencanakan program kegiatan untuk konservasi Babirusa khususnya di Pulau Buru. Seperti peningkatan patroli pengamanan, penyadartahuan masyarakat serta survei pakan/habitat.





Komentar tentang post