Prof Singgih mengatakan paradigma maritim merupakan pola pikir (pattern of thought) atau cara pandang terhadap diri dan lingkungannya sebagai bangsa dan negara maritim yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif), dan bertingkah laku (konatif/psikomotor).
Menurut Prof Singgih untuk membangun negara maritim yang besar perlu sosialisasi dan enkulturasi nilai-nilai budaya sejarah dan budaya maritim melalui media pendidikan, seni, sastra, dan sebagainya. Hal ini terkait dengan kenyataan bahwa selama masa penjajahan jiwa dan semangat bahari telah mengalami penurunan.
Prof Singgih menyampaikan materi tersebut dalam Webinar Nasional Pekan Kesejahteraan Undip Tahun 2021 yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Undip, Sabtu (21/8).
Kegiatan ini dengan tema “Upaya Menghidupkan Kembali Kemaritiman Sebagai Bentuk Identitas Bangsa Indonesia”. Selain Prof Singgih, pembicara lainnya adalah peneliti sejarah Museum Bank Indonesia Syefri Luwis.
Syefri membawakan materi dengan judul: Rempah dan Mata Uang Era Kerajaan: Sebuah Keterikatan. Pada masa lalu, rempah-rempah menjadi simbol eksotisme, kekayaan, prestise, dan sarat dengan kesakralan yang pernah dihargai setara dengan emas.
Rempah-rempah pada masa itu, kata Syefri, menjadi simbol eksotisme, kekayaan, prestise, sekaligus digunakan sebagai penyedap rasa, pengawet, dan obat berbagai penyakit. Sehingga zaman perdagangan itu mengakibatkan permintaan mata uang mengalir ke wilayah nusantara.





Komentar tentang post