Tahun 2022 menjadi titik balik. Bersama tim, Adhi kembali menyusuri gua-gua cadas Sulawesi dalam program digitalisasi dan pelestarian budaya bersama Google Arts & Culture.
Dalam bahasa Bugis dan Makassar, Gua sering disebut sebagai “Leang”. Lokasinya tak main-main—gua-gua terpencil yang hanya bisa dicapai dengan tiga jam berjalan kaki, menyeberangi sungai dan mendaki gunung.
Untuk mencapainya, para peneliti harus berjalan kaki selama tiga jam dari desa terakhir, menyusuri sungai, menembus hutan, dan mendaki batuan karst yang licin.
“Leang Tedongnge itu sangat terpencil. Perjalanan dari Kampung Liang-Liang butuh tiga jam jalan kaki, menyusuri sungai dan naik ke pegunungan. Memang capek sekali, tapi suasananya luar biasa,” kata Adhi.
Berumur 51 Ribu Tahun
Tantangan besar bukan hanya datang dari medan, tapi juga dari bentuk lukisan gua itu sendiri. Banyak dari gambar purba tersebut nyaris tak terlihat oleh mata manusia.
Proses pengolahan visual pun harus dilakukan secara cermat dan teliti, menggunakan teknik digitalisasi mutakhir seperti D-Stretch (Decorrelated Stretch).
Setelah gambar diolah dengan D-Stretch, barulah bisa dilihat bentuk aslinya. Tapi setelah itu, masih harus melakukan tracing manual, satu per satu.
“Gambar di Leang Karampuang, yang berumur minimum 51 ribu tahun, kita tracing manual selama hampir sebulan. Itu saya kerjakan sambil menyelesaikan disertasi saya. Alhamdulillah, saya lulus di bulan November kemarin,” ujar peraih doktor di Griffith Centre for Social and Cultural Research, Griffith University.




