”Nah, yang 2014 itu kan dapat atensi di dunia dan masuk di salah satu dari 10 terobosan ilmiah dunia versi majalah sains. Terus ada juga publikasi kita di 2019,” kata Adhi menceritakan kisahnya, dalam sesi diskusi pada acara peluncuran platform digital gambar cadas prasejarah Indonesia di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Selasa (3/6).
Pada tahun 2020, di tengah kegiatan ekskavasi biasa di situs Leang Tedongnge, Maros, Adhi menerima sebuah pesan yang kelak menjadi awal dari perjalanan monumental ini.
“Waktu itu saya lagi di Leang Tedongnge, sedang ekskavasi. Tiba-tiba ada kabar bahwa Google ingin menjajaki kolaborasi untuk mendokumentasikan gambar cadas. Tapi awalnya tidak ada tindak lanjut selama satu-dua tahun,” ujar Adhi, seperti dikutip dari Brin.go.id.
Situasi yang menggantung itu justru memantik inisiatif pribadi dari Adhi dan timnya. Mereka mulai mendata ulang situs-situs lukisan gua yang pernah diteliti dan dipublikasikan sebelumnya.
Salah satunya adalah lukisan adegan perburuan di Sulawesi, yang pada 2019 diakui sebagai salah satu dari 10 penemuan ilmiah paling revolusioner versi Science Magazine.
“Kami sadar bahwa dokumentasi yang kami punya penting. Pada 2014 dan 2019, publikasi kami mengenai seni cadas Sulawesi sudah masuk dalam sorotan dunia. Dari situ Google Art & Culture mulai tertarik mendokumentasikan situs-situs dan ‘resep’ riset kami di lapangan,” ujar Adhi.




