Darilaut – Di sudut kota yang dulu lebih akrab dengan dompet tebal dan uang tunai, kini petugas pasar, penjual kopi, hingga pemilik warung kelontong sibuk menempelkan stiker kecil bercetak QR.
Bukan sekadar tren, ini bagian nyata dari arus besar digitalisasi layanan keuangan yang digencarkan Bank Rakyat Indonesia (BRI) bersama otoritas nasional.
Di Gorontalo, penerapan QRIS, layanan BRImo, dan inisiatif kolaboratif antara BRI dengan pemerintah daerah mulai meresap ke aktivitas ekonomi sehari-hari, merubah cara orang bertransaksi, menabung, dan melayani pelanggan.
Di Gorontalo, debat tentang kemudahan hidup modern sering berujung pada satu kata: digital. Di pasar tradisional, warung kopi, hingga kampus, QRIS dan layanan perbankan digital BRI mulai menjadi pemandangan biasa.
Bagi banyak orang, termasuk pelaku usaha mikro dan generasi muda, teknologi ini menjanjikan transaksi tanpa tunai yang cepat dan tercatat. Namun di balik itu, ada tantangan literasi, infrastruktur, dan kebiasaan yang masih perlu dilalui agar manfaatnya benar-benar merata.
BRI sejak beberapa tahun terakhir memacu program transformasi digital yang masif. Pendekatan BRI bukan sekadar mengganti mesin kas, tapi menata ulang proses layanan agar ramah digital, dari aplikasi mobile banking sampai sistem pembayaran QRIS yang mudah diintegrasikan oleh UMKM.




