
Ialah Alfred Russel Wallace, naturalis asal Inggris yang pertama kali menjelajahi keanekaragaman hayati di wilayah ini. Dia membukukan catatan perjalanan bersama ratusan asistennya dalam Malay Archipelago (Kepulauan Melayu). Tahun ini menjadi penanda 200 tahun kehidupan Wallace yang lahir pada Januari 1823.
Dua abad berlalu setelah kelahiran Wallace. Kawasan Wallacea sudah jauh berubah dari apa yang naturalis itu amati. Saya melakukan banyak penelitian di kawasan ini sejak dekade 80-an dan merasa risau dengan sesaknya aktivitas baik pertambangan, perkebunan, pembangunan infrastruktur, maupun alih fungsi lahan lainnya di Wallacea.
Sesaknya pembangunan
Sejak empat dekade silam, saya melakukan banyak studi di kawasan Wallacea. Misalnya tentang kehidupan primata, ataupun mamalia terkecil tarsius, yang tersebar di pulau-pulau besar maupun kecil.
Saat itu, hutan-hutan di sekitar Sulawesi, Maluku, dan kepulauan sekitarnya belum banyak dibabat. Deforestasi pada tahun-tahun tersebut lebih banyak berlangsung di Sumatra dan Kalimantan. Belakangan perambahan hutan juga terjadi di Papua.

Namun, pada akhirnya Wallacea terimbas juga. Mulai dari perkebunan sawit di Sulawesi Barat, pembukaan lahan dan pembangunan di kawasan ini terus terjadi.
Berdasarkan penelitian saya, Sulawesi telah kehilangan sekitar 10,89% wilayah hutannya selama periode 2000-2017–setara dengan sekitar 2,07 juta hektare. Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara mencatat tingkat deforestasi tertinggi dengan kehilangan masing-masing sekitar 13,41% dan 13,37% dari tutupan hutan pulau Sulawesi dalam kurun waktu tersebut.





Komentar tentang post