Pahlawan “Salon Politik”
Bagi yang berusia diatas 30-an, memori kepahlawanan pun mulai terkelupas. Memori mereka dijejali oleh gerombolan manusia baru yang tidak memiliki jejak kepahlawanan, dan bahkan lebih banyak jejak kebejatan, namun kini menjadi idola baru dan bahkan diagung-agungkan. Modal rupiah untuk membeli “space” di media dan membiayai “salon” politik telah berhasil membuat banyak warga kita ikut mengidap amnesia kepahlawanan yang hakiki. Banyak di antara warga kita yang lebih menyenangi kisah turun ke got dan marah-marah di hadapan kamera dibanding mengingat serta menghayati memori pahlawan masa lalu yang tewas digantung, ditebas, diasingkan, dan dipenjara. Media berhasil mengupas dan menggantikan pahlawan yang berdarah-darah itu dengan alumnus salon “media” dan “politik”.
Bangsa ini bisa jadi akan kehilangan arah jika amnesia kepahlawanan ini menjadi kolektif. Pengorbanan dan kecintaan pada bangsa dan negara akan kehilangan ruh. Jika ini berlangsung lama dan menjadi kolektif, maka bisa dipastikan bangsa ini di masa depan akan tekuk lutut pada sejarah-sejarah yang instan, dan berlogika pendek (ekonomi-politik).
Pahlawan; Bukan “Aku”, Tapi “Kita”
Saat ini, lebih banyak yang mengagumi pahlawan hasil kreasi “salon politik” dibanding pahlawan yang sebenarnya. Sebab, pahlawan hasil kreasi “salon” adalah “pahlawan” yang minta dihargai jika bekerja, dan itu harus merujuk pada dirinya. Padahal, tindakan kepahlawanan adalah berkerja untuk sesama tanpa minta dihargai. Di dalam tindak kepahlawanan tak ada aku. Yang ada kita.




