Bisakah garam menjadi sebagai ingatan? Ketika tsunami Aceh 2004 menyapu desa, yang tersisa di antara puing adalah tempayan garam—bekas persediaan ibu-ibu untuk musim paceklik. Garam adalah simbol ketahanan. Tapi hari ini, kita lebih sering menggunakannya untuk mencaci: “Dasar otak asin!” padahal, justru garamlah yang membuat kita tetap bertahan.
Mungkin inilah yang harus kita pahami: garam bukan cuma NaCl. Ia doa nelayan yang mengering di kulit, ia keringat kakek-kakek di tambak, ia air mata ibu yang merendam ikan asin untuk bekal anaknya merantau.
“Kita adalah bangsa yang lahir dari laut,” kata Presiden Soekarno. Tapi laut tanpa garam hanyalah air yang kesepian.
Apa arti garam bagimu?
Bagi nelayan di Lamalera, ia nyawa. Bagi ibu di Jakarta, ia bumbu. Bagi generasi kita—mungkin ia pengingat bahwa kita mulai melupakan akar.
“Kami tidak mewarisi laut dari nenek moyang. Kami meminjamnya dari anak cucu.”




