Namun bukan berarti panggung maraton harus dimatikan. Sebaliknya, justru di sanalah letak tantangannya: bagaimana menjadikan semangat lari itu sebagai jembatan menuju transformasi ekonomi yang nyata. Bagaimana menjahit euforia dengan struktur, dan mengubah perayaan menjadi perputaran nilai. Lari tidak boleh hanya menjadi simbol, tapi juga alat. Aktifitas harus bisa mengalirkan manfaat, menurunkan angka kemiskinan, dan menciptakan kerja-kerja baru bagi warga di pinggiran kota dan desa.
Tetapi kita tidak perlu terpaku pada dikotomi “event atau tidak event”. Justru pertanyaannya adalah: bisakah event seperti maraton ini menjadi alat intervensi sosial dan ekonomi yang konkret?
Jawabannya: bisa. Tapi dengan catatan besar, jika dikelola secara holistik dan berbasis partisipasi masyarakat.
Event Lari Sebagai Soft Tourism
Gambaran diatas bukan sebuah utopia. Banyak kota di daerah lain seperti Bali, Yogyakarta, dan juga di berbagai belahan dunia lain berhasil menjadikan event lari sebagai pemantik ekonomi lokal. Kuncinya bukan pada skala, tetapi pada desain. Bayangkan jika rute maraton tidak hanya melintasi jalan utama kota, tapi melebar hingga ke pasar tradisional, perkampungan nelayan, atau jalur sejarah yang menyimpan cerita Gorontalo lama. Setiap kilometer menjadi panggung yang memperkenalkan budaya, kuliner, dan kehidupan lokal. Pelari tidak hanya mengejar waktu, tapi juga pengalaman.




