Bayangkan jika rute lari tidak lagi melulu melewati jalan utama kota, tapi diarahkan ke kawasan pesisir, desa-desa yang punya keunikan arsitektur, pasar tradisional, dan situs sejarah. Sepanjang lintasan, pelari disuguhi bukan hanya minuman isotonik, tapi juga narasi budaya, mural-mural warga, musik lokal, bahkan suguhan kuliner di water station. Peserta tidak sekedar mengejar waktu tempuh, peserta justru “mencicipi” Gorontalo dari dekat.
Gorontalo memiliki kekayaan alam yang luar biasa dan ikon budaya yang berderetan bisa dijadikan rute berlari, misalnya rute mengelilingi lingkaran danau bisa melewati benteng Otanaha, Makam Bapu Ju Panggola, pendaratan Presiden Soekarno, di seberang danau ada Air Panas Pentadio hingga jalan pedesaan asri di sekitar danau.
Bisa juga ada rute dari Kota Gorontalo menyusuri pesisir melalui Hiu Paus Botubarani, pantai Botutonuo hingga Olele. Termasuk desain rute lain yang lebih luas ke daerah perbukitan di Dulamayo dan sekitarnya.
Potensi yang dimiliki event lari seperti ini sesungguhnya luar biasa. Di era pariwisata berbasis pengalaman (experience economy), lari bukan hanya soal olahraga, tapi sebuah bentuk “soft tourism”: aktivitas berlari yang berbasis keterlibatan emosional dan fisik di ruang lokal.
Tentu saja ini bukan hal baru. Beberapa kota kecil di Eropa dan Jepang telah menjadikan maraton sebagai jalan revitalisasi wilayah desa dan ruang pinggiran. Dengan pendekatan “larian berjiwa lokal”, event menjadi pintu masuk wisata berkelanjutan yang tidak mengeksploitasi, tetapi menghidupkan.




