Dalam kerangka itu, event lari harus dimaknai sebagai bagian dari strategi soft tourism. Sebuah pendekatan wisata yang tidak bertumpu pada pembangunan besar-besaran, tapi pada pertemuan yang lembut antara ruang lokal dan pengunjung. Setiap pelari dari luar daerah adalah peluang ekonomi. Ia butuh tempat menginap, makanan khas, oleh-oleh, dan kenangan. Di sinilah pelaku UMKM lokal seharusnya hadir, bukan sebagai pelengkap, tapi sebagai aktor utama. Stand makanan khas, kerajinan tangan, dan produk-produk lokal harus dikurasi dan difasilitasi untuk tampil dalam orbit event. Pemerintah daerah seharusnya tidak hanya menyambut sponsor besar, tapi juga menyusun peta keterlibatan pelaku ekonomi kecil.
Kehadiran event lari juga bisa menjadi jalan baru bagi transformasi ruang pinggiran. Dengan rute yang menyebar dan bergilir di setiap wilayah, desa-desa yang selama ini terpinggirkan dalam peta pembangunan bisa mendapat giliran menjadi pusat perhatian. Anak-anak muda desa dilibatkan sebagai panitia, dokumentator, atau pemandu lokal. Warung-warung kecil hidup kembali, rumah warga disulap menjadi penginapan sementara. Bahkan sekolah-sekolah bisa menjadi titik kumpul dan pameran kecil.
Ekonomi Mikro dalam Arena Lari
Sayangnya, banyak dari event lari hari ini lebih banyak menguntungkan dua aktor besar: event organizer (EO) dan jaringan sponsor besar. UMKM lokal lebih banyak ditempatkan sebagai pelengkap, bahkan kadang tersisih oleh vendor luar yang lebih terorganisir. Ini yang harus diubah, yakni bagaimana sekitar 62 % pekerja di sektor informal di Gorontalo lambat laun bisa beralih menjadi pekerja sektor formal yang hal tersebut dikarenakan oleh event lari yang didesaian secara holistik.




