Pengaduan adalah keberatan yang harus diperiksa sebelum disimpulkan sebagai pelanggaran. Tidak semua pengaduan berakhir dengan putusan pelanggaran; sebagian diselesaikan melalui klarifikasi, hak jawab, mediasi, atau kesepakatan.
Dewan Pers, dalam laporan kinerjanya pada Agustus 2026, menyebut tingginya pengaduan sebagai indikator kesadaran dan partisipasi publik sekaligus peringatan dini mengenai kemungkinan pelanggaran. Karena itu, angka pengaduan harus dibaca dalam konteks, bukan dijadikan vonis tentang mutu media.
Media yang menerbitkan ribuan berita per bulan, termasuk investigasi tentang korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, mungkin menerima lebih banyak pengaduan daripada media yang hanya menerbitkan sedikit berita, apalagi hanya berdasarkan siaran pers. Perbedaan itu dapat mencerminkan skala produksi, jangkauan, dan sensitivitas isu, tapi jelas bukan mutu.
Penilaian yang lebih valid harus melihat jenis dan keseriusan kesalahan etik yang ditemukan Dewan Pers, proporsinya terhadap keseluruhan berita, kekuatan verifikasi yang dilakukan redaksi, pemenuhan hak jawab, independensi editorial, ada tidaknya tindakan korektif, serta apakah kesalahan yang sama berulang.
Empat pengaduan, empat konteks berbeda
Pengalaman Tempo menunjukkan bahwa setiap perkara harus dibaca berdasarkan substansinya.




