Sejauh ini, informasi ilmiah mengenai ubur-ubur api di perairan Indonesia masih sulit diperoleh karena masih minimnya riset ubur-ubur api.
Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi perkembangan riset ubur-ubur di Indonesia untuk merumuskan tindakan penanganan ledakan populasi ubur-ubur api yang efektif.
Tantangan lain adalah bagaimana respon ubur-ubur api terhadap perubahan iklim dan dampak negatif ubur-ubur api terhadap perikanan nasional.
Studi ekologi dan genetika populasi ubur-ubur api di perairan Indonesia saat ini menjadi salah satu fokus studi dari Pusat Penelitian Oseanografi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Ubur-ubur api merupakan kelompok hewan “pleustonik”, yaitu makhluk hidup yang hidup di permukaan air yang merupakan area kontak antara atmosfer dan air.
Ubur-ubur api satu-satunya anggota siphonophora yang bersifat pleustonik. Sifat pleustonik pada ubur-ubur api didukung oleh adanya pneumatophore yang membuatnya mampu tetap mengapung di permukaan air.
Terdapat simbiosis komensalisme ubur-ubur api dengan jenis ikan juvenil. Beberapa ikan juvenil diketahui sering terlihat berada dekat dengan ubur-ubur api.
Misalnya ikan Nomeus gronorii (man-of-war fish), Mupus maculatus (spotted ruff), Naucrates ductor (pilot fish), Macrorhamphosus scolopax (long snipefish) dan Caranx bartholomaei (yellow jack).





Komentar tentang post