Apa yang tampak sebagai “tawa” di permukaan adalah medan kompleks di mana hazard teknis berinteraksi dengan outrage emosional, dan masyarakat mengerahkan coping mechanism untuk menavigasi ketidakpastian. Jika dilewatkan tanpa dipahami, tawa akan terus menunda aksi. Jika dibaca dengan cermat, ia bisa menjadi sinyal awal bahwa sistem formal belum terinternalisasi, sekaligus titik masuk untuk membangun kesiapsiagaan yang lebih berbasis budaya.
Slavoj Žižek menawarkan kunci tambahan: humor tidak semata pelarian; ia juga jarak sinis—pengakuan atas ancaman sekaligus penyangkalan kolektif, yang menunda aksi nyata. Warga Gorontalo menertawakan tsunami karena dalam bercanda ada pengendalian atas ketidakpastian yang sistem formal gagal tangani. Fenomena ini berpotensi menjadi indikator disintegrasi memori risiko—ketika tawa menggantikan ritual kesiapsiagaan.
Dari fenomena ini memperlihatkan bahwa humor kolektif digital bukan hanya sebagai coping mechanism, melainkan sebagai sinyal sosio-kultural, yakni titik di mana pengetahuan historis bencana telah kehilangan “jatidiri kolektif” sehingga respons terhadap alarm modern menjadi campur aduk antara panik tanpa protokol dan parodi tanpa refleksi.
Pendekatan sosiologi bencana mengajarkan bahwa risiko bukan hanya persoalan geologi, tetapi juga persoalan sosial. Ketika masyarakat lebih cepat membuat meme daripada mengaktifkan protokol evakuasi, kita berhadapan dengan fenomena yang bisa disebut “mitigasi lelucon”: humor sebagai mekanisme sosial sekaligus sinyal erosi memori risiko. Fenomena ini jarang dikaji dalam konteks Indonesia. Penelitian tentang komunikasi risiko di Jepang, misalnya, menunjukkan bahwa keberhasilan mitigasi tidak hanya karena teknologi, tapi karena budaya risiko yang ditanam sejak dini. Di Jepang, sirine bukan undangan untuk bercanda; ia adalah bagian dari ritus kolektif yang dipahami secara emosional dan historis. Di Jepang, gempa yang lebih dari 1000 kali per tahun bukan untuk ditakuti, tapi “dibiasakan”.




