Perbandingan ini menunjukkan transisi yang harus dilakukan Gorontalo. Pemerintah daerah sudah mulai membangun program Desa Tangguh Bencana dan jalur evakuasi resmi serta membangun strategi komunikasi sosial hingga pendidikan kebencanaan. Namun, upaya ini perlu dilengkapi dengan narasi publik yang menghidupkan kembali sejarah lokal bencana. Simulasi tidak cukup jika tidak diikat dengan memori kolektif. Masyarakat akan lebih siap jika diberi konteks bahwa sirine bukan sekadar bunyi, tapi gema sejarah gempa dan tsunami masa silam.
Kesiapsiagaan tidak lahir dari ketakutan sesaat, tetapi dari proses reflektif yang menjahit pengetahuan ilmiah, pengalaman historis, dan budaya lokal. Jika tidak, tawa akan terus menjadi satu-satunya protokol, sampai suatu hari gempa datang bukan untuk ditertawakan, tapi untuk benar-benar dihadapi. Gorontalo memiliki kesempatan untuk membalik keadaan ini, dari risk society yang gagap menjadi masyarakat tangguh yang belajar dari sejarahnya sendiri.
Jepang, yang secara seismik jauh lebih sering diguncang gempa, menunjukkan bahwa bukan frekuensi ancaman yang menentukan kesiapsiagaan, melainkan internalisasi risiko sebagai praktik sosial. Di sana, anak-anak dilatih evakuasi sejak dini, simulasi rutin, sirene dan informasi disampaikan dalam protokol yang menggabungkan fisik dan narasi lokal: gempa berarti bergerak, tsunami berarti ke dataran tinggi, bukan bahan lelucon. Budaya ini adalah hasil dari proses panjang, yakni proses refleksif modernitas terdidik yang membentuk disiplin kolektif, yang hal tersebut belum sepenuhnya terbangun di Gorontalo.




