Kesadaran itu tergambar dalam kalimat yang masih diingat banyak orang Gorontalo:
“Tiimidu hilawo u odungga lo u melibudu, u yibu-yibungo, boli u totohunga, uwito saati liyo momate umo’o yibungo, umo’o lilibude, umo’o tohunga.”
Artinya, pada saat itulah sifat hati yang berliku harus dimatikan. Selama hilawo masih libu-libudu dan yibu-yibungo, manusia belum bebas. Hanya ketika ia mematikan semua kelokan hawa nafsu, barulah ia hidup dalam kelurusan — motulidu. Dalam artian, de matepo tulidu, de uwito mali motulidu.
Dari kesadaran ini, doa dalam Al-Fatihah memperoleh makna yang begitu dekat: ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm — “Tunjukilah kami jalan yang lurus.” Jalan yang lurus atau dalala u motulidu boyito, tita ta mopotunu? Bo Eeya yang sanggup mopootulidu (meluruskan) hati yang bengkok. Inilah hubungan antara bahasa, doa, dan jiwa: manusia berikhtiar, Tuhan yang menegakkan.
Secara lebih teknis, pemahaman ini juga tercermin dalam kehidupan beribadah. Dalam bahasa Gorontalo, sholat disebut motabiya, dari ungkapan tabi-tabi to Eeya, artinya mengikuti langsung atau terpaut terus kepada Allah. Tetapi orang sadar, tabi-tabi to Eeya adalah derajat tinggi yang sulit dicapai. Maka digunakanlah kata molu’udu — mengikuti. Mengikuti jalan yang lurus, mengikuti Nabi Muhammad ﷺ, mengikuti bimbingan pewarisnya yang benar. Sebab siapa yang berjalan sendiri akan kembali berputar seperti tulidu. Bolo mamoheliliya loma’o.




