Karena itu, periode lima tahun kedepan, yakni 2024-2029, adalah periode pertanggung jawaban pada ruh rakyat Gorontalo. Bukan pada suara rakyat, baik itu yang telah dipilih ratusan ribu, maupun puluhan ribu.
Orang seperti Fadel Muhammad, Rusli Habibie dan Rachmad Gobel bisa saja periode ini adalah periode terakhir karena persoalan usia yang pada tahun 2029 ketiganya sudah memasuki usia 70 an tahun. Hal yang sama bagi Elnino Mohi dan Rahmiyati Jahya yang sudah memasuki waktu 20 tahun di Senayan, tentu mereka akan berpikir-pikir berulang-ulang untuk terus bertahan di Senayan.
Tentu saja, bagi kelima orang tersebut, periode terakhir ini mesti serius dan fokus. Harus ada legacy pada periode terakhir ini, tanpa itu mereka akan dikecam dan dijadikan contoh sejarah yang buruk bagi semua generasi akan datang. Bahwa akan ada pembenaran-pembenaran terkait dengan kinerja mereka; “so beken ini, beken itu, bangun ini dan sebagainya”. Tapi secara sederhana, bisa terlihat dari minimnya intervensi mereka pada struktur pertambahan anggaran pada tiap daerah di Gorontalo. Bahwa mereka sibuk bekerja, tapi itu baru hanya bagian dari rutinitas formal belaka. Gorontalo butuh sesuatu yang luar biasa, butuh tiga kali dari yang sekedar rutin-formal tersebut.
Kesemuanya mesti melakukan yang bersifat extra ordinary karena banyak yang kurang dan bolong-bolong di Gorontalo saat ini. Gorontalo dilingkupi masalah yang bersifat extra ordinary pula.



