Pada Februari 2019 lalu, Fotografer dan operator selam, Rainer Schimpf (51 tahun) mengalami peristiwa yang langka di perairan tersebut. Di satu momen, Rainer yang sudah 15 tahun sebagai operator selam itu, sebagian tubuhnya masuk dalam mulut paus Bryde. Dalam hitungan detik, sebagian tubuh Rainer ini keluar kembali dari mulut paus Bryde.
Momen ini diabadikan tim lainnya, yang ikut dalam rombongan ekspedisi ini. Rainer dan rekan-rekannya saat kejadian sedang melakukan ekspedisi untuk membuat film untuk pendidikan dan lingkungan.
Lokasi ini berada di Port Elizabeth Harbour, Afrika Selatan. Di perairan ini setiap tahun, di waktu-waktu tertentu ikan sarden dan biota laut lainnya muncul dalam jumlah banyak.
Tim ini berbagi dalam dua kelompok. Rainer memimpin timnya ke laut, sekitar 25 mil dari pantai.
Lumba-lumba dan burung-burung laut terlihat bermain dan ikut mencari makan ditempat itu. Tiba-tiba laut bergejolak. Mereka tahu ada sesuatu yang aneh sedang terjadi.
Fotografer Heinz Toperczer, yang berada di kapal tidak jauh dari lokasi tersebut, berhasil mengabadikan momen-momen tersebut.
Rainer mengatakan, merasakan sesuatu yang gelap dan ada tekanan pada pinggannya. Ia hanya bisa menahan napas dan berharap paus itu tidak akan membawanya lebih dalam.
Setelah sekitar dua detik, keinginannya terkabul. “Saat berikutnya saya merasa paus berubah ke arah lain dan dilepaskan, kemudian keluar dari mulut,” kata Rainer.
Paus Bryde tersebut memiliki panjang 14 hingga 15 meter. Ketika makan, paus ini memangsa sambil berjalan dengan mulut terbuka.
Momen ini dapat dilihat melalui video dengan judul “I Was Spat Out By A Whale | SNAPPED IN THE WILD” yang diposting akun Barcroft Animals pada 7 Maret 2019,
Pada Sabtu 21 Desember 2019, nelayan di Desa Ujungmanik, Kawunganten, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, menyelamatkan paus Bryde kerdil (Balaenoptera edeni).
Saat air sudah surut, nelayan Ujungmanik Edi Santoso (34 tahun) yang pertama menemukan paus tersebut melihat mamalia laut ini meneteskan air mata.
“Kasihan lihat ikan yang besar ini, menangis, ada air matanya,” ujar Edi.
Nelayan yang datang ke lokasi, sempat menampung air mata paus tersebut.
Mulanya, Edi mengira itu terpal hitam. Dari kejauhan Edi yang membawa perahu bersama 3 pemancing asal Ciamis melihat terpal hitam dari kejauhan. Setelah dekat, Edi makin penasaran, ternyata bukan terpal hitam.
Perahu mendekat. Waktu menunjukkan pukul 05.30 WIB. Terlihat seekor paus terdampar di akar mangrove di Desa Ujungmanik.
Bagian tengah tubuh dan kepala paus ini berada di antara akar mangrove jenis Rhizophora dan Nypa fruticans (nipah).
Edi turun dari perahu. Salah seorang pemancing bernama Ujang mengambil foto dan video paus yang terdampar ini.
Untuk mengetahui apakah masih hidup, Edi naik ke tubuh dekat bagian kepala paus tersebut. Paus bergerak.
Sementara itu, Suradi mendapatkan informasi paus yang terdampar langsung mengkoordinir nelayan 10 nelayan untuk menyelamatkan paus tersebut bersama Pariman.
Dalam keadaan air yang sudah surut dan menyisakan lumpur, Suradi menyingkirkan akar pohon mangrove. Kemudian memindahkan lumpur untuk memudahkan penyelamatan paus ini bersama nelayan lainnya.
Jepang Kembali Beburu Paus
Tahun ini kapal penangkap paus Jepang Nisshin Maru kembali ke Pelabuhan asal Shomonoseki. Kapal ini mulai melakukan perburuan komersial 1 Juli lalu.
Dari kuota 232 paus yang dialokasikan untuk armada utama, telah ditangkap 187 paus Bryde, 25 sei, dan 11 minke. Kapal ini membawa sekira 1.430 ton daging paus beku.
Seperti diberitakan The Associated Press melalui Seattletimes.com, untuk pertama kali, setelah 31 tahun, Jepang memulai perburuan paus. Kapal Nisshin Maru kembali ke pelabuhan asal Shimonoseki, setelah menangkap 223 paus selama tiga bulan di lepas pantai Jepang.
Jepang memulai perburuan paus komersial, setelah keluar dari International Whaling Commission (IWC, Komisi Penangkapan Paus Internasional). sejak 1986, IWC melakukan moratorium terhadap perburuan paus.
Jepang kemudian berburu paus dengan “kedok” untuk penelitian ilmiah sambil menjual dagingnya. Para kritikus menganggap penelitian itu palsu, tidak lebih dari penutup untuk perburuan paus komersial.*
