Minggu, Agustus 2, 2026
Beri Dukungan
redaksi@darilaut.id
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Masuk
  • Daftar
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
  • Home
  • Berita
    • Laporan Khusus
    • Bisnis dan Investasi
    • Pemilu & Pilkada
    • Kesehatan
  • Eksplorasi
  • Kajian
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
    • Ide & Inovasi
    • Travel
  • Konservasi
    • Orca
    • Hiu Paus
    • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Iklim
  • Advertorial
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Dari Laut
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
Home Sampah & Polusi

Burung-burung di Pesisir Gorontalo Terkontaminasi Merkuri

redaksi
1 Juli 2018
Kategori : Sampah & Polusi
0

Prof. Dr. Ramli Utina. FOTO: DARILAUT.ID

Gorontalo – Burung-burung yang mencari mangsa di perairan pesisir dan laut di Provinsi Gorontalo terkontaminasi logam berat merkuri. Hasil penelitian yang dilakukan dosen Pascasarjana Universitas Negeri Gorontalo Prof Dr Ramli Utina menemukan sejumlah spesies burung yang telah tercemar merkuri.

“Di pesisir Gorontalo Utara empat spesies dan di Pohuwato tujuh spesies burung terakumulasi logam merkuri,” kata Ramli Minggu (1/7).

Burung-burung ini hidup dan mencari makan di pesisir Gorontalo Utara, Laut Sulawesi dan pesisir Pohuwato, Teluk Tomini. Burung-burung predator ini makanannya ikan, serangga dan invertebrata lainnya di pesisir.

Menurut Ramli, empat jenis burung yang terbanyak hadir di pesisir Gorontalo Utara mencari makan terutama pada saat air surut. Sebagian besar burung pesisir ini membuat sarangnya di pulau-pulau terdekat dengan pantai Utara, seperti di pulau Raja.

Burung-burung ini, telah mengonsumsi biota seperti ikan, kepiting, kerang dan moluska yang hidup di perairan yang tercemar logam berat. “Di Marisa biota yang menjadi mangsa burung antara lain Ikan, krustasea, pelecypoda, dan gastropoda,” katanya.

Burung-burung yang menggunakan habitat perairan pesisir sangat rentan terhadap pencemaran perairan. Spesies burung sebagai predator puncak, mencari makan berbagai biota perairan. Rantai makanan telah tercemar limbah merkuri, diindikasikan pada tubuh biota perairan.

Masuknya logam merkuri ke dalam sistem ekologi ini dapat memberikan pengaruh secara beruntun pada biota. Mulai dari tingkatan tropik yang paling rendah sampai dengan tingkatan tropik teratas. Biota seperti ikan, kepiting dan kerang yang hidup di perairan pesisir dapat mengkonsumsi logam merkuri dari perairan yang tercemar.

Jika ikan, kepiting, kerang ini masuk dalam rantai makanan, terjadi akumulasi logam merkuri yang cukup tinggi dalam tubuh burung air. Kondisi ini dapat menyebabkan kelainan, gangguan penyakit dan kematian.

Empat jenis burung yang terkontaminasi merkuri di pesisir Gorontalo Utara, yakni Tringa sp. (Trinil). Burung ini terkontaminasi merkuri lebih tinggi dalam organ ginjal. Seperti jenis Tringa melanoleuca kandungan merkuri (0.43 ppm). Kemudian jenis Butorides striatus (0.22 ppm), Actitis hypoleucos (0.19 ppm), dan Pluvialis squatarola (0.11 ppm).

Dalam organ hati, kandungan merkuri terbesar jenis Tringa melanoleuca (0.31 ppm), Actitis hypoleucos (0.18 ppm), organ hati pada Butorides striatus (0.17 ppm) dan Pluvialis squatarola (0.10 ppm).

Merkuri juga ditemukan pada jaringan otot dada burung. Burung jenis Tringa melanoleuca (0.31 ppm), Butorides striatus (0.12 ppm), Actitis hypoleucos dan Pluvialis squatarola kandungan merkuri pada otot dada (0.10 ppm).

Di pesisir Pohuwato, tujuh spesies burung yang mencari mangsa di perairan pesisir telah diidentifikasi terakumulasi merkuri. Tujuh spesies burung itu, yakni Tringa glareola (0,3537 ppm), Butorides striatus (0,1070 ppm) dan Himantopus leucocephalus (0,5756 ppm). Selain itu, Anas gibberifrons (0,0962 ppm), Todirhamphus chloris (2,3447 ppm), Numenius phaeopus (0,2961 ppm) dan Nycticorax nycticorax (0,2484 ppm).*

Tags: gorontalo utaralaut sulawesimerkuripohuwatoteluk tomini
Bagikan8Tweet5KirimKirim
Previous Post

Peneliti: Populasi Penyu di Sumatera Barat 30 Ribu Ekor

Next Post

Rekaman 10 Tahun Hiu Paus di Perairan Gorontalo

Postingan Terkait

UNEP dan GEF Perkuat Pemantauan Merkuri dan Bahan Kimia Beracun

UNEP dan GEF Perkuat Pemantauan Merkuri dan Bahan Kimia Beracun

29 Juni 2026
Indonesia Penghasil Limbah Elektronik Terbesar di Asia Tenggara

Indonesia Penghasil Limbah Elektronik Terbesar di Asia Tenggara

17 Juni 2026

Krisis Polusi Plastik Mencekik Lautan, Bahan Alternatif  Terhambat tarif dan Peraturan

4.000 Spesies Laut Terpengaruh Plastik

World Oceans Day, Emisi Sampah Plastik Capai 52,1 Juta Metrik Ton per Tahun

SDGs Center UNG Dukung Gerakan Pilah Sampah

Plastik Daur Ulang untuk Kemasan Makanan Perlu Pengamanan Lebih Ketat

Mikroplastik dan Nanoplastik, Ilmuwan Telah Mendeteksi dalam Darah Manusia dan Paru-Paru

Next Post
Rekaman 10 Tahun Hiu Paus di Perairan Gorontalo

Rekaman 10 Tahun Hiu Paus di Perairan Gorontalo

Komentar tentang post

TERBARU

Kontribusi Sektor Kelautan Rendah, Profesor Riset BRIN Dorong Omnibus Law Kelautan

Bibit 94W Menguat Menjadi Depresi Tropis di Laut Filipina

Topan Super Dolphin Sedikit Melemah di Timur Laut Kepulauan Mariana Utara

Wisuda ke-62, UNG Kukuhkan 700 Lulusan

Sambut Ribuan Mahasiswa Baru UNG Perkenalkan Logo dan Maskot Simbol Kampus Berdampak

Bibit Siklon Tropis 94W Beri Dampak Gelombang Laut di Sangihe dan Talaud

AmsiNews

REKOMENDASI

Sisi Positif La Nina

Gempa Laut M 6,2 Mengguncang Aceh Singkil

Gempa Laut Maluku M7,6 Dirasakan V-VI di Ternate, Terdeteksi Tsunami di Sidangoli

182 Hari Berturut di Tahun 2025 Hiu Paus Muncul di Perairan Botubarani, Gorontalo

47 Kali Gempa Guguran di Karangetang

Mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru UNG Dapat Pembekalan PAUD

Kategori

  • Advertorial
  • Berita
  • Biota Eksotis
  • Bisnis dan Investasi
  • Cek Fakta
  • Eksplorasi
  • Hiu Paus
  • Ide & Inovasi
  • Iklim
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Konservasi
  • Laporan Khusus
  • Orca
  • Pemilu & Pilkada
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Travel
  • Video

About

  • Tentang
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Terms of Use
  • Kebijakan Privasi
  • Pedoman Pemberitaan Media Siber
  • Trustworthy News Indicators
Dari Laut

darilaut.id

Menginformasikan berbagai perihal tentang laut, pesisir, ikan, kapal, berita terkini dan lain sebagainya.

redaksi@darilaut.id
+62 851 5636 1747

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

Selamat Datang Kembali

Masuk dengan Facebook
Masuk dengan Google+
Atau

Masuk Akun

Lupa Password? Mendaftar

Buat Akun Baru

Mendaftar dengan Facebook
Mendaftar dengan Google+
Atau

Isi formulir di bawah ini untuk mendaftar

Isi semua yang diperlukan Masuk

Ambil password

Masukan username atau email untuk mereset password

Masuk
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Home
  • Berita
  • Pemilu & Pilkada
  • Laporan Khusus
  • Eksplorasi
  • Sampah & Polusi
  • Tips & Trip
  • Biota Eksotis
  • Cek Fakta
  • Ide & Inovasi
  • Konservasi
  • Kajian
  • Kesehatan
  • Orca
  • Hiu Paus
  • Bisnis dan Investasi
  • Travel
  • Iklim
  • Advertorial

© 2026 DARILAUT - Berita terbaru dan terkini hari ini - darilaut.id.

This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.