“Masyarakat di sana juga baik, ada yang ingin melakukan pelestarian lingkungan yang berkelanjutan dan sebagainya,” kata M. Fedi A. Sondita selaku salah satu narasumber dalam studi banding dan Vice Director for Network & Communication Embrio, FPIK-IPB.
Studi banding dilakukan untuk memenuhi kesenjangan informasi dan pengalaman dari setiap pelaksana kegiatan agar dapat memiliki gambaran menyeluruh mengenai wisata, pengawasan, dan sinergi antara masyarakat, pemerintah daerah, dan pihak pengelola kawasan konservasi.
Menurut Fedi, ada beberapa output yang diharapkan dari kegiatan studi banding. Antara lain, peserta mendapat gambaran mengenai kegiatan konservasi berbasis masyarakat dan pengembangan potensi sumber daya alam yang menjadi objek ekowisata. Mengetahui komponen penting pengembangan pariwisata berbasis ekowisata desa. Mendapatkan pembelajaran dari pengelolaan kawasan konservasi yang dilakukan di Pulau Pramuka dan Pulau Harapan, serta menyusun rencana tindak lanjut dalam kegiatan studi banding.
Kegiatan studi banding terbagi menjadi tiga bagian yaitu kelas, praktek dan diskusi. Materi kelas bertujuan memberikan pengetahuan terkait program ekowisata yakni pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial-budaya, ekonomi masyarakat lokal, serta aspek pembelajaran dan pendidikan. Pemberian materi dilanjutkan dengan praktek langsung oleh peserta.





Komentar tentang post